Ketidaksengajaan dan Word of Mouth

Juli 9, 2008 at 2:08 am | In Penjualan (sales) | No Comments
Tags: ,

Hush Puppies

Pada awal tahun 1995, Hush Puppies, salah satu merek sepatu klasik berkulit suede dengan sol ringan dari karet mentah buatan Amerika, bisa dibilang telah mati. Hush Puppies sendiri diproduksi oleh sebuah perusahaan bernama Wolverine dimana Owen Bexter dan Geofrey Lewis sebagai pemimpinnya. Kedua orang tersebut berencana untuk menutup produksi sepatu merek Hush Puppies. Namun tiba-tiba nasib Hush Puppies berubah sangat drastis karena sebuah kejadian yang sangat tidak disengaja. Kejadian yang sangat sederhana yang mampu membuat perusahaan ini memperoleh keuntungan tanpa harus melakukan promosi besar-besaran.

Tak disangka, Bexter dan Lewis bertemu dengan seorang desaigner ternama dari New York, dimana dalam perbincangan santai tersebut, Sang desaigner mengatakan bahwa Hush Puppies sedang digandrungi para hipster di klub-klub dan kafe-kafe di kawasan Manhattam. Perancang tersebut mengatakan bahwa banyak orang menyerbu toko-toko barang bekas untuk membeli sepatu merek Hush Puppies. Bahkan orang-orang memborong untuk membeli sepatu tersebut. Untuk beberapa lama Bexter dan Lewis menanggapi cerita itu sebagai gurauan. Sebab dia tahu bahwa merek Hush Puppies sudah mati dan sudah ketinggalan jaman.

Sekitar musim gugur 1995, pesanan mulai berdatangan bagai air bah. Mula-mula perancang mode John Bartlett menelepon. Ia ingin menggunakan Hush Puppies dalam koleksi musim seminya. Kemudian seorang perancang mode lain dari Manhattam, Anna Sui, menghubungi Bexter dan Lewis. Ia ingin memsan Hush Puppies untuk pamerannya. Di Los Angeles, Perancang Joe Fitzgerald sengaja membuat dan memasang balon setinggi tujuh meter berbentuk anak anjing berbulu lembut dan berkaki pendek serta bertelinga panjang-simbol merek Hush Puppies- pada atap tokonya di Hollywood, kemudian mengosongkan galeri butiknya untuk dijadikan galeri khusus Hush Puppies.

Sampai Akhir tahun 1995, Wolverine mampu menjual 430.000 pasang Hush Puppies klasik. Tahun 1996, penjualan nak sebanyak 4 kali lipat disbanding tahun 1995, dan tahun 1997 menjual lebih banyak lagi sampai-sampai Hush Puppies mengkukuhkan diri sebagai kelengkapan busana ngetren bagi kaum pria muda Amerika. Dalam tahun 1996, hush Puppies memenangkan penghargaan untuk asesoris terbaik dari council of fashion.

“APA PENYEBABNYA HUSH PUPPIES BISA MELEDAK????”

Jawabannya adalah sebuah “keisengan dari beberapa pemuda.”

Beberapa pemuda iseng ingin tampil beda. Namun entah mengapa, keisengan tersebut menular kebeberapa remaja-remaja lainnya. Sampai akhirnya ada 2 perancang busana yang menggunakan sepatu ini untuk menawarkan mata dagangan mereka yang lain-adibusana. Sepatu ini muncul lagi kepermukaan karena sebuah kebetulan. Tidak seorangpun mencoba membuat Hush Puppies menjadi sebuah mode.

Lalu apa yang bisa kita pelajari????

Ada beberapa hal:

  • Jangan meremehkan hal kecil.
  • Word of mouth memiliki peran yang sangat penting di balik kesuksesan sebuah merek (dalam hal ini Hush Puppies). Orang yang mungkin tak berhubungan langsung dengan perusahaan kita dapat memberikan promosi yang bermanfaat untuk kesuksesan merek kita.

    Loyalitas Konsumen: sebuah Konsep

    Juni 13, 2008 at 9:39 am | In loyalitas | 2 Comments
    Tags:

    Hi All….

    Seorang pemasar harus mampu memenangkan hati konsumen hingga sampai tahap loyalitas konsumen terhadap produk yang di konsumsi. Saya mencoba memberikan sedikit tulisan mengenai loyalitas konsumen. Ini masih dalam tataran konsep sederhana. Semoga di tulisan selanjutnya, akan ada banyak kasus yang bisa kita pelajari dari beberapa perusahaan besar baik perusahaan domestik ataupun perusahaan asing.

    Silahkan klik di bawah ini untuk mendownload artikel “Loyalitas Konsumen: Sebuah Konsep”:

    loyalitas-konsumen-konsep

    Translation of Sun Tzu

    Juni 13, 2008 at 9:29 am | In Strategic Management | No Comments
    Tags: , ,

    Hello all…..

    Sun Tzu’s strategy is so famous concept in strategy area. Sun Tzu talk about how the company can win the battle in crowded competition. To be the best company in those industry had been dream and goal many company. The company always create and explore the innovation way or unique strategy just want to be the leader in the those industry. I hope this writing can help you (the follower who want to be leader) to be the best leader in the crowded competition. I take this writing from the article “Implementing the strategic formulation frame work for the banking industry of hongkong”, author: Ko and Lee.

    Translation of Sun Tzu’s Art of business Management in Strategic Planning into modern business management strategies:

    Strategy 1. Planning of Strategy, estimation, and leadership

    • Understand the actual situation; decide on the plan of action
    • Analyze and compare both parties conditions, both favorable and unfavorable.
    • Business is very much related to tactics and strategic planning
    • Right information and proper preparation will help business making success.

    Strategy 2. Resources and competitive action

    · Make a good and realistic estimation on the actual expenses before entering into business

    · Speed and quick decision help in business.

    · Organization structure should be clear and effective.

    Strategy 3. Competitive strategy and wisdom

    · Understanding strategy help to win competition

    · Use wisdom and best strategy instead of aggressive tactics For success.

    · Understand the situation and act flexibily.

    · Decision should be taken at appropriate company level- more delegation of responsibility.

    Strategy 4. Positioning and targeting, strengths and weaknesses estimation

    · Stengthen the internal before competition

    · Attact right to the target and defence keeps top secret.

    · Beware of business and situation changes; never be content with the present

    · Careful planning of the whole situation would enable the business under control.

    Strategy 5. Opportunitiy, timing and management structure

    · Good organization helps to define responsibilities

    · Business tactics require flexible managing policy.

    · Move quickly to explore business opportunities.

    · Offer some advantages and trap by strategy

    · Right person gets the right job.

    Strategy 6. Control of Market situations and climate

    · Keep ahead of competition through innovations

    · Knowing the competitors but not allowing them to know you that enables you to concentrate effectively.

    · If one over-diversifies, the business can easily be challanged. Concentrate your effort when you are strong.

    · Even though the competition is keen, the competition can still win by better understanding of the market requirement and prove successful.

    · Change constantly according to the changing needs of market situation.

    · Business tactics never remain constant and should take any form.

    Strategy 7. Anagement of conflict and avoidance of concentration

    · Business competition is most difficult when confronting competition ahead-on.

    · There is not only disadvantage but also danger in competing for a favorable position.

    · Know the potensial partner well before entering into

    · Motivate your people for common goal through good communication.

    · Strenghten the organization and plan business strategies.

    Strategy 8. Flexibility and adaptability

    · Consider both favorable and unfavorable factors in business

    · Fatal weakness of management should be understood.

    Strategy 9. Observing and maneuvering

    · Take the best approach during difficult market condition and stay away from difficult situations.

    · Get away from dangerous situation as quickly as possible.

    · Observe competitors’ position and plan strategy accordingly would have better reaction.

    · Wait until the situation clears before reentering into market competition. Good and accurate decision makes proper investment in business.

    · Thrughly understand the market situation to avoid potential problem and identify pitfall.

    · When a competitor has low morale, it means their leadership is poor. Prestige and authority of senior management are essential.

    · If everyone does what they should do diligently, both the management and workforce will benefit and trust each other and have good relationship.

    Strategy 10. Competitive situations and causes of failure

    · Gain advantages over the competition when they are unprepared.

    · A good manager takes the business advantage without taking personal fame and gain and admitting failure without shirking responsibility.

    · Treat your employees as your family and they will share your vision.

    · A skilled manager reallocated his resources without losing his direction and purpose.

    Strategy 11. Competitive conditions and offensive strategy, alliance and vision.

    · Market situation can be different according the way business is conducted.

    · By making market alliance, stronger market control and strategy will be obtained

    · Never attack your competition when your resources are not focusd.

    · Skilled manager would advance when it was to their advantage and halt when situation were unfavorable.

    · Aware of business situation and react speedily the workforce to the vision of company.

    · Company who does not understand the intention of potentional partner cannot form alliance with them.

    Strategy 12. Destroying and decision

    · Key to success is recognizing good opportunities.

    · Always stay ahead of your competitors.

    · Remain flexible and adapt in accordance with the changing situation.

    · Build on achievement. Never sit on the present situation and continuously keep on innovation.

    · A simple business mistake could ruin the whole business.

    Strategy 13. Intelligence and information

    · Ignoring of the competitor’s situation is danger that may lead to waste of resources.

    · Achieve extraordinary accomplishments by good management of people who clearly understand the market situation.

    · Use many way of gathering information from the market.

    · Information gathering is always possible.

    · Detailed information of the market is essential.

    · Recognizing and try to recruit talented people to work for your company.

    · Recognize talented people’s achievement in your company to achieve great task.

    Motivation Story 3: KISAH TENTANG PERTAPA DAN ALAT PEMOTONG KAYU

    Mei 22, 2008 at 5:33 am | In motivasi | 1 Comment
    Tags:

    KISAH TENTANG PERTAPA DAN ALAT PEMOTONG KAYU


    Pada suatu hari, ada seorang pertapa yang ingin membuat sebuah rumah. Selama hdupnya, dia hidup di dalam sebuah gua yang kecil. Yang pertama dia lakukan adalah turun gunung untuk membeli alat pemotong kayu di took peralatan di kota terdekat.

    “saya ingin pindah dari gua saya dan bermaksud membuat rumah sendiri dari batang kayu”, begitu kata pertapa ini dengan bangga kepada pelayan toko. Lalu dia melanjutkan penjelasannya, “ Saya perlu alat pemotong kayu yang paling baik, tidak masalah berapapun harganya.

    Pelayan toko yang masih muda tersebut segera menuju gudang tempat penyimpanan alat-alat yang dijualnya. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa sebuah alat pemotong kayu yang tampak bagus dan mengkilap. “Ini alat pemotong yang terbaik yang ada di pasaran.”, kata pelayan itu dengan mantap. “Dengan alat pemotong ini anda bisa menebang kayu bagai pisau memotong mentega. Saya jamin dengan alat pemotong kayu ini, pekerjaan memotong dan menebang kayu yang memakan waktu sebulan, bisa diselesaikan dalam waktu satu hari saja. Jika tidak terbukti, saya berani mengembalikan uang anda dari kantong pribadi saya.”

    Karena si pertapa ini sangat tertarik dengan penjelasan pelayan toko tadi, maka dia membeli alat tersebut. Lalau ia kembali kegunung tempat dia bertapa.

    Sebulan setelah itu, ketika si pelayan toko sedang sibuk membereskan barang dagangannya, ia mendengar suara teriak si pertapa., “Hei anak muda!!!! Saya datang untuk mengembalikan alat pemotong kayuini. Tolong kembalikan kembalikan uang saya seperti janji anda dulu.”

    Si pelayan toko memndang wajah tua si pertapa itu. Ia tertegun melihat penampilan yang sudah tidak karuan. Si pertapa tampak seperti tidak tidur selama berminggu-minggu. Pada pakaiannya tampak bercak darah dan keringan. Kelihatannya isa telah bekerja setengah mati.

    “A…a…a..apa yang terjadi dengan bapak??? WAjah anda begitu memprihatinkan!!” Tanya pelayan toko tergagap-gagap.

    DEngan sisa-sisa kekuatan yang ada padanya, si pertapa tua mengangkat alat pemotong kayu ke meja penjualan. Sambil bersungut-sungut, ia berkata, “Alat pemotong kayu macam apa yang anda jual pada saya??? Katanya, alat pemotong kayu ini mampu menebang pohon dalam sehari saja. Saya sudah menggunakan alat pemotong ini selama 30 hari, tapi pekerjaan saya belum selesai juga. Seperti yang anda janjikan, tolong kembalikan uang saya.”

    Si pelayan toko yang merasa keheranan lalu minta maaf dan berkata, “Tentu!!! Janji memang harus ditepati. Tetapi, tolong coba saya periksa dulu alat penebang kayu ini. Siapa tahuada yang tidak beres.”

    Lalu si pelayan toko segera menarik tali yang ada pada alat penebang itu. Kontan saja alat itu berbunyi, “B-R-R-R-R-R-R-R-R-R!!!!”

    Saking terkejutnya, si pertapa langsung terhempas ke belakang meja penjualan. Ia merasa seakan mendengar bunyi peluru yang ditembakkan dari alat pemotong itu. Lalu ia berteriak kepada pelayan toko, “BUNYI APAKAH ITU???”

    Apa yang bisa kita pelajari dari cerita diatas???

    “Seringkali kegagalan bukan disebabkan karena minimnya kemampuan atau usaha kita untuk mengerjakan sesuatu. Seringkali kegagalan disebabkan karena miskinnya pengetahuan yang kita miliki. Kita telah menjadi orang yang sangat tidak mau belajar sesuatu.”

    Motivation Story2: Katak Pemenang

    Mei 11, 2008 at 2:21 pm | In motivasi | 1 Comment
    Tags: ,

    Tidaklah mudah untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Seringkali orang-orang disekitar kita sangat meremehkan kita. Mereka sering memeberikan respon negatif kepada kita. Mereka MENGANGGAP BAHWA APA YANG KITA CITA-CITAKAN MUSTAHIL TERCAPAI. Ketika saya membaca kisah yang sangat menarik mengenai seekor katak yang telah berhasil menyelesaikan perlombaan, walau banyak teman-temannya memberikan respon negatif, tetapi dia tetap maju dan mampu mencapai menara tertinggi. Ingin tahu bagaimana ceritanya.

    Klik aja di sini: kisah_katak_kecil

    Motivation Story1 :Serigala Berhati Domba

    Mei 7, 2008 at 7:42 am | In motivasi | No Comments

    SERIGALA BERHATI DOMBA

    Pada suatu sore terjadi gempa di sebuah desa terpencil. Pohon tumbang, ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal, beberapa sawah menjadi sungai, dan beberapa gua menjadi bukit. Bencana itu mengantarkan seekor anak serigala ke kandang domba. Induk domba yang baru beranak menganggap anak serigala itu sebagai anaknya. Namun wajah serigala itu memang sangat berbeda. Domba berwajah serigala tersebut diberi nama Midas.

    Seiring waktu berlalu, Midas diasuh induk domba dengan penuh kasih saying, sama seperti saudaranya-saudaranya yang lainnya. Midas disusui dan diselimuti oleh bulu induknya setiap malam tiba, Midas diajarkan bagaimana mencari sayur untuk mengenyangkan perutnya. Induk domba menanamkan kepada Midas bahwa ia adalah domba. Midas selalu berpikir bahwa ia adalah domba yang lemah, tak berdaya, dan selalu diburu. Lingkungan Midaspun memperlakukannya sebagai domba yang selalu diburu yang perlu berlari dan bersembunyi.

    Seringkali Midas terkagum dengan serigala yang dianggapnya hebat karena bisa mengalahkan semua domba. Sering ia bermimpi mau melawan serigalakarena merasa kuat ddan bisa berlari kencang. Namun, ibunya selalu mengatakan bahwa Midas adalah binatang yang sangat lemah. SAudara-saudaranya selalu mengejek ketika mendengar mimpi Midas. Semua kawanan domba merendahkannya karena mimpi Midas.

    Suatu hari keluarga Midas dikejar segerombolan serigala. Beberapa domba tertangkap oleh serigala, termasuk Midas. Serigalapun melahap domba satu persatu, kecuali Midas.

    “Tunggu… binatang apakah engkau ini?” lolong serigala tua kepada Midas.

    Midas sangat ketakutan, “Aku domba, tolong jangan makan aku.”

    Serigala tua membentaknya, “Engkau bukan domba!!! Engkau bagian dari kami, serigala!!!”

    Midas diseret para serigala ke tepi sungai, “Coba engkau lihat ke sungai! Lihat wajahmu baik-baik!!!” Kata serigala Tua.

    Midas bercermin ke sungai, tertegun dan membolak balik badan. Midas menjawab, “Wajah dan tubuhku memang mirip serigala, tetapi kata ibuku wajahku saja yang mirip serigala. Aku tetaplah domba.”

    Serigala tua marah dan melolong dengan keras, “Oke, Midas, sekarang buka mulutmu yang besar, mulailah melolong.”

    Midas melakukannya dan mulailah dia percaya. Midas berlari, melolong dan bergulat dengan serigala.

    Tercapailah impian midas untuk bergulat dengan serigala. Midas sungguh jadi serigala yang kuat dan perkasa. Midas menemukan dirinya tidak selemah yang diajari domba-domba untuk mencapai impiannya. Hanya satu yang midas belum terbiasa, memakan daging domba.


    Positioning: Sebuah Konsep

    Mei 4, 2008 at 4:54 am | In Positioning | No Comments
    Tags: , , , , , ,

    KONSEP POSITIONING

    PENDAHULUAN

    Setiap hari pastilah ada ribuan pilihan yang ada di kepala kita, entah itu pilihan untuk melakukan sesuatu ataupun pilihan untuk mengkonsumsi produk. Misalnya saja, pada pagi hari ketika kita hendak makan, kita menuju ke warung makan, maka terdapat beberapa alternatif makanan yang hendak kita makan. Memilih untuk makan roti bakar, bubur kacang hijau, mie rebus, atau mie goreng. Setelah makan kita ada banyak alternatif pilihan kegiatan apa yang mau kita lakukan. Contohnya, bermain ke rumah teman, belajar di perpustakaan, bermain playstation, dll. Hampir bahkan setiap hari hidup kita selalu diperhadapkan pada pilihan.

    Ketika hal diatas diimplementasikan ke dalam dunia pemasaran, maka konsumen memiliki ribuan alternatif untuk memilih merek mana yang mau dikonsumsi. Kita lihat beberapa alternatif pilihan yang konsumen hadapi ketika dia hendak memilih suatu produk, misalnya:

    · Mobil: ada merek Toyota (inova, avansa, lezus, dll), Honda (jezz, CRV, dll), Suzuki (APV), Daihatzu(Xenia), ,Nissan (Terrano),dll

    · Sepeda motor: ada merek Jupiter, Honda Vario, Suzuki Smash, Dayang , Kaizar, dll

    · Oli Pelumas: Castrol, Enduro, Agip, Prima XP, Top 1, Mobil one, Yama Lub, Exxon, Shell, dll

    Ribuan pilihan konsumen untuk memilih produk mana yang akan dia konsumsi harus membuat pemasar sadar bahwa pemasar harus mampu memenangkan benak konsumen dan menyingkirkan banyak pilihan lainnya dan membuat konsumen hanya berpikir tentang produknya. Trout (2004,10) menjelaskan bahwa pilihan bisa kejam. Lebih jauh lagi Trout mengatakan:

    “ Begitu juga dengan pilihan. Dengan persaingan yang begitu ketat, para pemasar ini digerakkan oleh pilihan. Konsumen memiliki begitu banyak alternatif bagus sehingga sedikit kesalahan bisa menghancurkan anda. Saat pesaing merebut bisnis anda, anda tidak akan mendapatkan kembali dengan mudah. Perusahaan yang tidak memahami ini tidak akan bertahan hidup.”

    Sebagai seorang pemasar, jika ingin mendapatkan “posisi yang menguntungkan di benak konsumen”. Kita harus lebih dahulu mempelajari, memahami, dan melakukan manufer di medan pertempuran. Dan medan pertempuran itu adalah di kepala konsumen dan prospek kita. Santoso (200 8) pernah dikirimi email oleh The Father of Positioning, Al Ries. Dalam suratnya tersebut Al Ries mengatakan untuk menonjol di pasar yang kian hiruk pikuk, para pemain perlu menduduki posisi merek yang tak tergoyahkan di benak konsumen.

    PENGERTIAN POSITIONING

    Ada beberapa ahli yang mendefinisikan mengenai Positioning

    · Doyle (1983) mengatakan Positioning strategy refers to the choice of target market segment which describes the customers a business will seek to serve and the choice of differential advantage which defines how it will compete with rivals in the segment.

    · Trout (2004, 15) mendefinisikan positioning sebagai cara kita untuk mendeferensiasikan diri kita di dalam benak konsumen.

    · Kertajaya (2004) mendefinisikan positioning sebagai the strategy to lead your customer credibility (Upaya mengarahan pelanggan anda secara kredibel).

    · Pearce (2007) said that Positioning is an attempt to show a product or service in a manner that meets certain desired wants or needs of your target audience.

    PLAYING IN THE CUSTOMER PERSEPTION (BRAIN)

    Kotler mendefinisikan merek sebagai nama, singkatan, tanda atau desain, yang mengidentifikasi suatu produk dan membedakan produk tersebut dengan produk lainnya. Simamora mengatakan bahwa eksistensi merek berdasarkan ada tidaknya nama merek di pikiran konsumen. Bila nama merek tidak ada di benak konsumen, walau produknya ada, akan membuat merek tersebut menjadi BUKAN pilihan konsumen.

    Trout (2004) mengatakan bahwa otak konsumen sangat terbatas. Otak hanya menerima informasi-informasi baru yang sesuai dengan pemikiran berjalan. Otak menolak segala informasi yang tidak sesuai dengan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya, tetapi juga tidak tmemiliki banyak pengetahuan atau pengalaman masa lalu yang banyak untuk mengolahnya. Hal inilah yang harus disadari oleh pemasar. Sebelum melakukan positioning, kita harus mengetahui sebenarnya apa kebutuhan konsumen saat ini. Sebagai contoh, ketika orang mulai butuh HP yang gampang untuk dioperasikan, maka Nokia masuk dengan slogan, “connecting the people”. Artinya Nokia ingin membangun positioningnya sebagai HP yang mudah digunakan untuk berhubungan dengan orang lain.

    WHAT MUST WE DO IN POSITIONING?

    Ada beberapa faktor penting yang dapat kita pertimbangkan di dalam Strategi positioning, antara lain (Chandra, 1999):

    1. ATRIBUT PRODUK

    Merupakan sifat, simbol, atau tanda-tanda dari suatu produk yang meliputi pandangan luar produk, manfaat konsumen terhadap produk yang berhubungan dengan merek produk tersebut. Trout memberikan definisi atribut sebagai karakteristik, keunikan, atau fitur pembeda dari seseorang atau sesuatu.

    Yang membuat seseorang atau sebuah produk menjadi unik adalah keterkenalannya atas salah satu atribut yang dimilikinya. Misalnya, Kijang terkenal dengan luasnya tempat sehingga dipersepsikan bagus untuk orang yang mengutamakan bepergian dengan keluarga besar.

    Jadi kesimpulan yang bisa diambil adalah “What are the specific product attributes?”. Setelah kita memahami, maka sprsifik atribut tersebut akan menjadi senjata pamungkas kita untuk memenangkan perang di benak konsumen.

    2. HARGA PRODUK

    Harga adalah sejumlah uang yang secara actual dibayar, diminta, atau ditawarkan untuk suatu barang atau jasa. Harga berdampak pada kinerja finansial dan mempunyai pengaruh penting dalam persepsi pembeli dan positioning dari merk. Parameter harga yang ada dalam strategi positioning adalah diskon, harga promosi, dan harga yang rendah.

    3. PEMAKAIAN PRODUK

    Pemakaian produk adalah gambaran bagaimana produk itu dipakai atau dipergunakan.

    4. PEMAKAI PRODUK

    Pemakai produk adalah individu atau perusahaan yang memakai produk tersebut. Parameter pemakai produk yang ada dalam strategi positioning adalah pendapatan konsumen, umur konsumen, dan pendidikan konsumen.

    5. KELAS PRODUK

    Kelas produk adalah tingkatan produk yang dibuat sehingga dapat membedakan satu dengan yang lainnya.

    6. PESAING

    Pesaing adalah perusahaan laing yang siap memproduksi atau mengembangkan barang pada pasar actual perusahaan, melayani kebutuhan konsumen yang mempunyai persamaan fungsi atau perusahaan yang siap masuk pasar perusahaan dengan rencana diversifikasi usahanya. Parameter pesaing yang ada dalam strategi positioning adalah jangkauan pasar, kepuasan konsumen, kinerja masa lalu, dan kemampuan saat ini.

    Hermawan Kertajaya memberikan beberapa tip untuk membangun positioning secara tepat dan efektif.

    · Positioning kita haruslah dipersepsikan secara positif oleh para pelanggan dan menjadi reason to buy mereka.

    Positioning yang kita lakukan haruslah mendeskrepsikan value yang paling kita unggulkan dan value ini benar-benar merupakan suatu asset bagi mereka.

    · Positioning haruslah mencerminkan kekuatan dan keunggulan kompetitif perusahaan.

    Jangan sekali-kali merumuskan positioning, tetapi tidak mampu melakukannya. Bisa menjadi over promise under deliver.

    · Positioning haruslah bersifat unik sehingga dapat dengan mudah mendeferensiasikan diri dari para pesaing.

    Keuntungan positioning yang unik adalah tidak mudah ditiru dan bila pesaing kita tidak bisa meniru apa yang kita lakukan, maka keuntungan terbesar yang bisa kita dapat adalah sustainable dalam jangka panjang.

    · Positioning harus berkelanjutan dan selalu relevan dengan berbagai perubahan dalam lingkungan bisnis, apakah itu perubahan persaingan, perilaku pelanggan, perubahan sosial budaya, dan sebagainya.

    Contohnya, Extra Joss. Awal mula positioning nya adalah minuman berenergi tanpa harus membeli botolnya, dengan target pasarnya adalah para sopir truk. Tetapi kini telah bergeser target pasarnya menjadi Gen-B (Generasi Biang).

    INTI POSITIONING

    Dari beberapa literatur yang saya baca, Inti dari Positioning adalah ada beberapa hal:

    a. Ujung dari positioning adalah persepsi konsumen.

    Trout mengatakan bahwa kesuksesan atau kegagalan strategi sepenuhnya berkaitan dengan masalah-masalah dan peluang perseptual di pasar. Intinya, memahami bahwa di dalam kepala konsumenlah kita menang atau kalah. Lebih lanjut lagi Trout menjelaskan:

    Anda tidak boleh dipengaruhi oleh presetasi-presentasi indah yang dilakukan oleh eksekutif-eksekutif anda tentang bagaimana perusahaan anda dapat membuat produk yang lebih baik, atau bagaimana perusahaan anda dapat memperbaiki sistem distribusi, atau bagaimana anda bisa mengefektifkan tenaga penjualan anda. Anda harus tetap berfokus pada kepala prospek. Persepsi sulit, bahkan mustahil untuk berubah. Dan jika eksekutif-eksekutif anda berkata bahwa persepsi bisa dirubah, jangan percaya. Semakin anda memahami kepala konsumen atau prospek anda, semakin kecil kemungkinan anda masuk ke dalam jurang masalah.”

    b. Membuat produk kita menjadi unik di benak konsumen.

    Tujuannya adalah mudah untuk dikenali. Produk yang generic akan sangat tidak menguntungkan. Ini bisa membunuh merek di benak konsumen. Produk generic sangat sulit untuk dibedakan satu dengan yang lainnya. Yang penting adalah unik.

    c. Memberikan benefit yang lebih dibandingkan dengan pesaing kita.

    Benefit adalah Value yang diperoleh atau akan diperoleh oleh konsumen.

    d. Positioning bukanlah strategi jangka pendek, melainkan difungsikan untuk strategi jangka panjang.

    Sulitnya mengubah persepsi konsumen mengenai sebuah produk, akan membutuhkan waktu yang relative lama untuk mencoba memasukkan produk kita di kepala konsumen. Oleh sebab itu, strategi positioning bukanlah strategi yang dilakukan untuk tujuan atau goal jangka pendek. Semakin kita ingin cepat memperoleh share yang besar di benak konsumen, maka semakn kita akan mengetahui bahwa kita mulai jatuh dalam kegagalan.

    KESIMPULAN

    Dari beberapa pengertian diatas saya menyimpulkan bahwa positioning sebagai strategi untuk memberikan posisi terbaik sebuah merek di benak konsumen dengan mempertimbangkan value tertentu yang dibutuhkan oleh konsumen. Jadi ketika kita membuat strategi positioning, yang menjadi pertimbangan kita adalah value apa yang dibutuhkan oleh konsumen, bukan value apa yang bisa kita tawarkan. Sisi konsumenlah yang menjadi target kerja merek produk kita.

    DAFTAR PUSTAKA

    Chandra, Herry Pintardi. (1999). “Faktor-Faktor Strategi Positioning dalam Pemasaran Real Estate”, Dimensi Tehnik Sipil. Vol 1, no.2, hal. 114-124.

    Doyle, P. (1983), “Marketing Management”, unpublished paper, Bradford University Management Centre.

    Kartajaya, Hermawan. (2004). “Hermawan Kartajaya on Positioning”,Bandung: PT Mizan Pustaka.

    Pearce, David M. (2007). “Reach The Right Oudience for Your Marketing Campaign”. Contact Lens Spectrum. April.

    Santoso, Ippo. (2008). “ Hot Marketing: 15 Cara Paling Panas Mengorbitkan Merek”. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia.

    Trout, Jack. (2004). “Trout on Strategy: Menguasai Benak Konsumen, Menaklukkan Pasar”. Kelompok Gramedia: PT Bhuana Ilmu Popular.

    Rahasia Bisnis Orang Cina

    April 14, 2008 at 1:23 am | In resume buku | No Comments

    RAHASIA BISNIS ORANG CINA

    LUAR BIASA !@#%%^%^

    Buku yang cukup menarik untuk dibaca dan memberikan inspirasi mengenai kerja keras dan sukses orang Cina dalam membangun kerajaan bisnisnya. Buku ini ditulis oleh ann Wan Seng, seorang rantau Cina yang tinggal di Malaysia. Buku ini memberikan banyak sekali rahasia bagaimana sebuah kesuksesan pedagang Cina dalam membangun kerajaan bisnisnya dimana semuanya dimulai dari “nol”.

    Saya mencoba memberikan resensi atau resume buku ini. Semoga pembaca dapat menikmati resensi ini, terlebih mau mencoba membaca bukunya secara langsung. Harapan saya, resensi buku ini mampu menolong memberikan intisari kedasyatan sharing ilmu dari Ann Wan Seng. Semoga bermanfaat.

    SILAHKAN MENIKMATI?!@#!@!$#$!

    Kerja Keras merupakan symbol khusus bagi pedagang Cina. Mereka memulai bekerja dari pagi buta sampai larut malam. Tujuannya satu, yaitu memajukan usaha perdagangan mereka. Mereka tidak kenal putus asa, lelah, letih, pesimis, ataupun kata-kata negative lainnya. Buktinya adalah mereka memulai semuanya dari nol. Sebagian besar adalah orang rantau dari tanah Cina, dan merantau ke Negara lain. Mereka merantau hanya bermodalkan baju yang melekat di badannya. Kebanyakan dari orang Cina tersebut tidak memiliki pendidikan atau kepandaian. Yang membuat mereka kuat adalah keinginan untuk menghidupi keluarga dan diri mereka serta ingin meningkatkan derajat mereka. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain selain bekerja lebih keras dibandingkan orang lain agar bisa melanjutkan hidupnya. Mereka rela menderita, lelah, sakit, demi memajukan usaha yang dirintisnya.

    Perdagangan merupakan pekerjaan yang mereka anggap memiliki derajat tertinggi. Dengan berdagang, mereka dapat meningkatkan kemakmuran lebih dari pekerjaan yang lainnya. Selain itu, dengan berdagang akan mampu meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan bakat yang mereka miliki. Berdagang menjadi symbol terpenting orang Cina. Mereka beranggapan bahwa bekerja di kantoran alias mendapatkan gaji merupakan pekerjaan kasta rendah yang berusaha mereka hindarkan.Beberapa prinsip orang Cina yang menjadikan mereka sebagai pedagang yang sukses serta memiliki kemakmuran yag tingg, antara lain:

    • Agresif
    • Jangan melepaskan peluang
    • Berani mengambil resiko
    • Tahan Banting
    • Jangan menyerah pada nasib
    • Semangat berjuang

    Keenam prinsip diatas harus diterapkan dalam perdagangan. Sekedar pintar berdagang, tidak akan memberikan hasil maksimal. Harus didukung dengan keenam prinsip tersebut.

    Sebagai seorang pedagang, orang Cina sangat pandai berinvestasi. Prinsip uang harus menghasilkan uang yang lebih banyak, akan membuat mereka melupakan pola hidup konsumtif. Laba yang mereka peroleh, akan mereka investasikan ke bidang lainnya. Orang Cina Rela menebalkan muka, menahan caci maki orang, dan hidup sederhana. Setiap sen yang diperoleh dari keringatnya sendiri digunakan dengan hati-hati.

    Adapun tips-tips buku ini antara lain:

    - Pedagang harus menunjukkan kejujuran dan keikhlasan selagi melaksakan perdagangan.
    - Pedagang harus mewujudkan kepercayaan dan ikatan yang akrab dengan pelanggan, tidak peduli apakah dia pelanggan lama atau baru, pelanggan besar atau kecil.
    - Pedagang harus melayani para pelanggannya dengan baik karena mereka adalah bagian penting dari perdagangan.
    - Pedagang tidak boleh menuruti perasaan dan kehendak sendiri.
    - Pedagang harus mengikuti permintaan dan keperluan pelanggan.
    - Pedagang harus selalu bermuka manis dan kaya senyum
    - Pedagang tidak boleh marah dan membentak pelanggan.
    - Pedagang bukan tauke, karena bos yang sebenarnya adalah pelanggan.
    - Pedagang tidak boleh sombong, angkuh dan congkak.
    - Pedagang harus rajin bekerja dan mudah mengulurkan bantuan.
    - Pedagang harus siap memberikan pelayanan tambahan dan dalam konteks perdagangan ritel, mengantar barang ke rumah pelanggan.
    - Pedagang tidak boleh ragu-ragu menjawab segala pertanyaan orang banyak.
    - Pedagang harus menunjukkan bahwa dia adalah orang yang serbatahu terutama dalam bidang yang berkaitan dengan perdagangannya.
    - Pedagang harus memperhatikan apa yang terjadi di masyarakat dan isu terkini.
    - Pedagang harus memiliki kepekaan yang tinggi dan rasa simpati yang mendalam pada pelanggannya.
    - Pedagang harus menjadikan pelanggannya sahabat, bukan sebagai pembeli yang datang dan pergi.
    - Pedagang tidak boleh pelit memberikan diskon, pujian dan penghargaan kepada pelanggan.
    - Pedagang harus bangun pagi-pagi sekali dan membuka perdagangannya secepat mungkin.
    - Pedagang harus memberikan pelayanan yang cepat, jangan membiarkan pelanggan menunggu.
    - Pedagang harus mudah diajak bicara dan berunding.
    - Pedagang tidak boleh bersikap suka berprasangka atau menghakimi para pelanggan.
    - Pedagang harus selalu berpikiran terbuka dan positif.
    - Pedagang tidak boleh reaktif dan terburu-buru.
    - Pedagang harus menunjukkan ke pelanggan bahwa dia selalu sibuk
    - Pedagang tidak boleh tidur sewaktu menjalankan tugas dagang.
    - Pedagang harus berusaha menciptakan suasana ceria bukannya menimbulkan kebosanan.
    - Pedagang harus memastikan tempatnya penuh dengan barang, jangan biarkan ada ruang kosong.
    - Pedagang harus memberikan kebebasan kepada pelanggan untuk membuat pilihan.
    - Pedagang jangan sekali-kali turut campur dan membuat keputusan untuk pelanggan, kecuali jika diminta.
    - Pedagang harus membuat pelanggan merasa kehadiran mereka dielu-elukan.
    - Pedagang tidak boleh berkata “tidak” kepada pelanggan.
    - Pedagang harus berperan sebagai pedagang, bukannya orang yang suka mengumpat, berjudi dan minum arak.
    - Pedagang harus belajar menggunakan uang dan meningkatkan kemahiran menabung.
    - Pedagang harus selalu menyediakan uang receh sebagai uang kembalian bagi pelanggan.
    - Pedagang tidak boleh menunjukkan kemewahannya di depan pelanggan karena image bukan datang dari perhiasan, melainkan pelayanan yang diberikan.
    - Pedagang jangan sekali-kali makan di depan pelanggan karena dianggap perbuatan yang tidak sopan.
    - Pedagang harus menempel pengumuman jika tempatnya ditutup untuk sementara waktu.
    - Pedagang jangan mencari musuh karena tidak baik bagi perdagangan.
    - Pedagang jangan terlalu suka dan kerap membicarakan mengenai keuntungan.
    - Pedagang harus tahu membedakan keuntungan jangka pendek dan jangka panjang.
    - Pedagang tidak boleh terlalu yakin harus waspada dan berjaga-jaga.
    - Pedagang sebaiknya tidak menjadikan tempat perdagangan sebagai tempat tinggal untuk keluarga bertandang dan menumpang makan.
    - Pedagang harus menyimpan cadangan dan stok barang supaya tidak terjadi kekurangan.
    - Pedagang harus menepati janji dan menyelesaikan utang.
    - Pedagang tidak akan rugi jika memberikan sedikit insentif kepada pelanggan dalam bentuk potongan harga, hadiah, atau menambah berat barang yang dibeli oleh mereka.
    - Pedagang tidak boleh menipu karena kepercayaan menjadi dasar utama dalam perdagangan.
    - Pedagang tidak boleh menyalahkan orang lain jika terjadi kerugian dan kecelakaan. Semua harus diterima dengan hati teguh.
    - Pedagang harus mewujudkan situasi win-win antara dirinya dan pelanggan. Dengan begitu, hubungan mereka akan kekal dan perdagangan akan dapat bertahan.

    COMPETITIVE STRATEGY

    April 14, 2008 at 12:16 am | In Economics | 1 Comment

    Competitive Strategy: The Basics a la Michael Porter

    In his book, Competitive Strategy (Free Press: 1980), Michael Porter identifies three fundamental competitive strategies and lays out the required skills and resources, organizational elements and risks associated with each strategy. The table below is a shorthand way of referring to what Porter has to say.

    Competitive Strategy

    Required Skills & Resources

    Organizational Elements

    Associated Risks

    Overall Cost Leadership

    Sustained capital investment and access to capital

    Process engineering skills

    Intensive supervision of labor

    Products designed for ease of manufacture

    Low-cost distribution system

    Tight cost control

    Frequent, detailed reports

    Structured organization and responsibilities

    Incentives based on meeting strict quantitative targets

    Technological change that nullifies past investments or learning

    Low-cost learning by industry newcomers or followers through imitation, or through their ability to invest in state-of-the-art facilities

    Inability to see required product or marketing change because of the attention placed on cost

    Inflation in costs that narrow the firm’s ability to maintain enough of a price differential to offset competitors’ brand images or other approaches to differentiation

    Differentiation

    Strong marketing abilities

    Product engineering

    Creative flair

    Strong capability in basic research

    Corporate reputation for quality or technological leadership

    Long tradition in the industry or unique combination of skills drawn from other businesses

    Strong cooperation from channels

    Strong coordination among functions in R&D, product development, and marketing

    Subjective measurement and incentives instead of quantitative measures

    Amenities to attract highly skilled labor, scientists, or creative people

    The cost differential between low-cost competitors and the differentiated firm becomes too great for differentiation to hold brand loyalty. Buyers thus sacrifice some of the features, services, or image possessed by the differentiated firm for large cost savings.

    Buyers’ need for the differentiating factor falls. This can occur as buyers become more sophisticated.

    Imitation narrows perceived differentiation, a common occurrence as industries mature.

    Focus

    Combination of the above policies directed at the particular strategic target

    Combination of the above policies directed at the particular strategic target

    The cost differential between broad-range competitors and the focused firm widens to eliminate the cost advantages of serving a narrow target or to offset the differentiation achieved by focus.

    The differences in desired products or services between the strategic target and the market as a whole narrows.

    Competitors find submarkets within the strategic target and outfocus the focuser.

    My work affords me the opportunity to study related topics. In this case, the topic is strategy. This is one of several occasional papers I prepared while head of Strategic Planning & Management Services at Educational Testing Service.

    Objectives

    Keep one ear open in almost any business environment and the term “strategy” is sure to crop up on a regular basis. Unfortunately, those using the term frequently fail to define the way in which they are using it. Nor do those hearing it bother to check to see how it is being used. As a result, conversations about strategy can become confusing.

    There are at least three basic forms of strategy in the business world and it helps to keep them straight. The objectives of this brief paper are to clarify the general concept of strategy and draw attention to the importance of distinguishing among three forms of strategy: (1) strategy or “strategy in general,” (2) corporate strategy and (3) competitive strategy (Figure 1).

    strategy_venn_diagram.gif (3470 bytes)

    Figure 1 - Three Forms of Strategy

    The Concept of Strategy

    The many definitions of strategy found in the management literature fall into one of four categories: plan, pattern, position, and perspective. According to these views, strategy is:

    1. A plan, a “how,” a means of getting from here to there.
    2. A pattern in actions over time; for example, a company that regularly markets very expensive products is using a “high end” strategy.
    3. A position, that is, it reflects decisions to offer particular products or services in particular markets.
    4. A perspective, that is, a vision and direction, a view of what the company or organization is to become.

    As a practical matter, strategy evolves over time as intentions accommodate reality. Thus, one starts with a given perspective, concludes that it calls for a certain position, and sets about achieving it by way of a carefully crafted plan. Over time, things change. A pattern of decisions and actions marks movement from starting point to goal. This pattern of decisions and actions is called “realized” or “emergent” strategy.

    Strategy in General

    Strategy, in general, refers to how a given objective will be achieved. Consequently, strategy in general is concerned with the relationships between ends and means, that is, between the results we seek and the resources at our disposal. Strategy and tactics are both concerned with formulating and then carrying out courses of action intended to attain particular objectives. For the most part, strategy is concerned with deploying the resources at your disposal whereas tactics is concerned with employing them. Together, strategy and tactics bridge the gap between ends and means (see Figure 2).

    wpe2.jpg (21279 bytes)

    Figure 2 - “Bridging the Gap”

    Although it is not my aim to draw definitive distinctions between strategy and tactics, it is next to impossible to say something about one without also saying something about the other. The table below summarizes some of the more important differences I’ve noted in my studies and observations of strategy and tactics.

    Aspects

    Strategy

    Tactics

    Scale of the Objective

    Grand

    Limited

    Scope of the Action

    Broad and General

    Narrowly Focused

    Guidance Provided

    General and Ongoing

    Specific and Situational

    Degree of Flexibility

    Adaptable, but not hastily changed

    Fluid, quick to adjust and adapt in minor or major ways

    Timing in Relation to Action

    Before Action

    During Action

    Focus of Resource Utilization

    Deployment

    Employment

    Strategy and tactics are both terms that come to us from the military. Their use in business and other civilian enterprises has required little adaptation as far as strategy in general is concerned, however, corporate strategy and competitive strategy do represent significant departures from the military meaning of strategy.

    Corporate versus Competitive Strategy

    Corporate strategy defines the markets and the businesses in which a company will operate. Competitive or business strategy defines for a given business the basis on which it will compete. Corporate strategy is typically decided in the context of defining the company’s mission and vision, that is, saying what the company does, why it exists, and what it is intended to become. Competitive strategy hinges on a company’s capabilities, strengths, and weaknesses in relation to market characteristics and the corresponding capabilities, strengths, and weaknesses of its competitors. According to Michael Porter, a Harvard Business School professor and the reigning guru of competitive strategy, competition within an industry is driven by five basic factors:

    1. Threat of new entrants.
    2. Threat of substitute products or services.
    3. Bargaining power of suppliers.
    4. Bargaining power of buyers.
    5. Rivalry among existing firms.

    Porter also indicates that, in response to these five factors, competitive strategy can take one of three generic forms: (1) focus, (2) differentiation and (3) cost leadership.

    Other Factors Affecting Corporate and Competitive Strategy

    Other writers on the subject of strategy point to several factors that can serve as the basis for formulating corporate and competitive strategy. These factors include:

    Products-services offered

    Sales-marketing methods

    Users-customers served

    Distribution methods

    Market types and needs

    Natural resources

    Production capacity-capability

    Size/growth goals

    Technology

    Return/profit goals

    Recently, “value disciplines” have been suggested as the basis for settling on strategy (corporate or competitive). The three basic “value disciplines” are:

    Operational Excellence

    Strategy is predicated on the production and delivery of products and services. The objective is to lead the industry in terms of price and convenience.

    Customer Intimacy

    Strategy is predicated on tailoring and shaping products and services to fit an increasingly fine definition of the customer. The objective is long-term customer loyalty and long-term customer profitability.

    Product Leadership

    Strategy is predicated on producing a continuous stream of state-of-the-art products and services. The objective is the quick commercialization of new ideas.

    Some Fundamental Questions

    Regardless of the definition of strategy, or the many factors affecting the choice of corporate or competitive strategy, there are some fundamental questions to be asked and answered. These include the following:

    Related to Mission & Vision

    • Who are we?
    • What do we do?
    • Why are we here?
    • What kind of company are we?
    • What kind of company do we want to become?
    • What kind of company must we become?

    Related to Strategy in General

    • What is our objective? What are the ends we seek?
    • What is our current strategy, implicit or explicit?
    • What courses of action might lead to the ends we seek?
    • What are the means at our disposal?
    • How are our actions restrained and constrained by the means at our disposal?
    • What risks are involved and which ones are serious enough that we should plan for them?

    Related to Corporate Strategy

    • What is the current strategy, implicit or explicit?
    • What assumptions have to hold for the current strategy to be viable?
    • What is happening in the larger, social, political, technical and financial environments?
    • What are our growth, size, and profitability goals?
    • In which markets will we compete?
    • In which businesses?
    • In which geographic areas?

    Related to Competitive Strategy

    • What is the current strategy, implicit or explicit?
    • What assumptions have to hold for the current strategy to be viable?
    • What is happening in the industry, with our competitors, and in general?
    • What are our growth, size, and profitability goals?
    • What products and services will we offer?
    • To what customers or users?
    • How will the selling/buying decisions be made?
    • How will we distribute our products and services?
    • What technologies will we employ?
    • What capabilities and capacities will we require?
    • Which ones are core?
    • What will we make, what will we buy, and what will we acquire through alliance?
    • What are our options?
    • On what basis will we compete?

    Summary

    The preceding discussion asserts that strategy in general is concerned with how, with courses of action intended to achieve particular objectives. Corporate strategy is concerned with choices and commitments regarding markets, business and the very nature of the company itself. Competitive strategy is concerned with competitors and the basis of competition. These basic points are illustrated in Figure 3.

    three_forms_of_strategy.gif (7311 bytes)

    Figure 3 - Focal Points of Strategy

    Recommended Reading

    Much of the preceding discussion is drawn from many well-known sources. To list them all would entail inserting an extensive bibliography right about here. Instead, I’ve chosen to list what I consider some “essential” readings.

    1. Competitive Strategy (1986). Michael Porter. Harvard Business School Press.
    2. The Concept of Corporate Strategy, 2nd Edition (1980). Kenneth Andrews. Dow-Jones Irwin.
    3. “Customer Intimacy and Other Value Disciplines.” Michael Treacy and Fred Wiersema. Harvard Business Review (Jan-Feb 1993).
    4. The Discipline of Market Leaders (1994). Michael Treacy and Fred Wiersema. Addison-Wesley.
    5. The Rise and Fall of Strategic Planning (1994). Henry Mintzberg. Basic Books.
    6. Strategy (1967). B. H. Liddell Hart. Basic Books.
    7. Strategy: Pure and Simple (1993). Michel Robert. McGraw-Hill.
    8. Top Management Strategy (1980). Benjamin Tregoe and John Zimmerman. Simon and Schuster.
    9. “What is Strategy?” Michael Porter. Harvard Business Review (Nov-Dec 1996).

    HOT MARKETING

    Maret 13, 2008 at 6:51 am | In resume buku | No Comments
    Tags: ,

    IDE GILA DAN KREATIF !!!!#@$@#

    Cara pandang yang begitu luar biasa, tulisan yang begitu dinamis, dan ide yang cemerlang menjadikan buku ini menjadi salah satu pilihan untuk dibaca. Majalah pengusaha sendiri memberikan sebuah statement bahwa buku ini telah menjadi buku paling berbahaya tahun ini. Buku ini berjudul “HOT MARKETING- 15 Cara Paling Panas Mengorbitkan Merek” (penilis Ippo Santoso) mampu menyajikan ide yang mungkin sering sekali kita dengar, namun buku ini telah memberikan bukan sekedar teori tetapi sebuah esensi bisnis yang begitu luar biasa.

    Saya merekomendasikan untuk membaca buku ini, dan saya percaya teman-teman akan mendapatkan pencerahan yang membawa kepada pengetahuan baru. Saya rasa harganyapun cukup terjangkau. Seperti tulisan saya sebelumnya, saya akan menyajikan resume dari buku ini. Semoga anda tertarik untuk membacanya.

    marketing hot
    Buku ini memberikan kepada kita bahwa ada 15 cara paling panas untuk mengorbitkan merek, antara lain:

    1. Pertama-tama, patuhi aturan A & W

    Sebuah merek hendaknya accountable & writeable (mudah diucap dan mudah ditulis). Sebab banyak orang akan mengaktifkan komunikasi merek setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Salah satu masalah yang dimiliki konsumen adalah pengingatan. Oleh sebab itu, sangat diperlukan mematuhi hukum pertama ini, agar awareness konsumen akan merek kita meningkat tajam, dan pada akhirnya akan menjadi top mind dalam benak konsumen.

    Contoh merek yang mudah diucapkan dan ditulis sehingga mudah diingat oleh konsumen, antara lain, Rinso, ABC, Intel, dll

    Contoh merek yang tidak mengikuti hukum ini, antara lain, PricewaterhouseCooper, HSBC, Kratingdaeng. (perlu usaha ekstra untuk mengucapkan dan menuliskan merek-merek ini)

    2. Maknai Benak Konsumen

    Perang yang sesungguhnya adalah bagaimana merek kita di benak konsumen. Yang harus dilakukan adalah pastikan merek kita mengandung makna tertentu di benak konsumen

    Contoh: Lexus identik dengan luxurious

    Selain itu ada beberapa nasehat lain,:

    • Merek jangan mengandung angka, kecuali angka itu ada maknanya bagi target pasar(contoh Formula 44, You C-1000, M-50)
    • Iringilah merek dengan business description, positioning statement, dan vision statement.

    3. Bangkitkan dan tularkan Roh

    Sewaktu bisnis berdiri pertama kali, bisnis itu hampa. Jadi hendaklah sang founder membangkitkan “ROh” itu sekaligus menularkan kepada karyawan, seterusnya pada perusahaan.

    Contoh, Di usia ke 60 tahun, Thomas Alfa Edison menerima musibah dimana kebakaran yang hebat menghabiskan laboratorium terlengkap yang dia miliki. Namun dia malah mengatakan, “Saya belum terlalu tua untuk memulai yang baru”. Iapun merintis laboratoriumnya kembali dan tetap bekerja kerasselama 17 th berikutnya. Kemudian sejarah mencatat, laboratorium tersebut menjadi cikal bakal perusahaan yang paling disegani, yaitu GE.

    4. Bentuklah Personality

    Merek akan tetap menjadi benda mati, sebelum dibentuk personality-nya. Wujudkan personality-nya agar merek terkesan hidup juga berinteraksi dengan pelanggan. Misalnya, extra joss pada awalnya hanya merek mati, tapi Karena pemasaran yang dilakukannya maka orang mengenal extra joss sebagai tangguh, lalu contoh lain seperti Trans TV sebagai pendobrak, Nestle sebagai susu berkualitas dari swiss, dll. Caranya adalah menjadikan personality merek kita menjadi kongkret

    5. Nikmati Masa Kecil

    Selagi bisnis kita masih kecil, nkmati betul-betul masa tersebut. Jangan terlalu rendah diri atau merasa “seharusnya kita menjalankan usaha yang besar”. Semakin besar usaha kita, ada kemungkinan kita sudah tak mampu menanganinya. Ada beberapa manfaat

    • Segeranya perubahan
    • Tidak kelihatannya ‘dosa-dosa’
    • Citra
    • Teredamnya persaingan
    • Daya Juang
    • Lebih ke Personal touch

    6. Perkuat Barisan Internal

    Sebuah bisnis tak ubahnya dengan helicopter. Mengudaralah setelah memeriksa mesinnya terlebih dahulu. DEngan kata lain, perkuatlah barisan internal, sebelum kita mengurusi mengenai pemasaran. Sebuah perumpamaan. Misalnya saya seorang penyanyi yang punya mimp untuk go internasional. Yang harus saya lakukan adalah memperbaiki kondisi internal. Misalnya dengan belajar bahasa inggris, tetap les menyanyi, dll.

    Contoh: Lipposhop.com. Mereka mau menyamai atau meniru amazon.com. sayangnya, Supply chai-nya keteteran. Walhasil, ending cerita lipposhop.com bubar jalan!!.

    7. Tebarkan Story for Glory

    Proyek dengan embel-embel termahal akan memicu sensasi, menggedor perhatian public, menjadi buah bibir, dan pada akhirnya meroketkan penjualan. Banyak comtoh penggunaan Story of Glory, misalnya, melalkukan sesuatu untuk medapatkan Guiness World Record, Muri, atau juga mengadakan proyek dengan label termahal, terbanyak, dan ter- yang lainnya.

    8. Waspadai Pisau Bermata Dua

    Disatu sisi sales promotion dapat membawa manfaat. Tapi disisi lainnya, sales promotion yang seradak seruduk juga dapat mengundang malapetaka, terutama terhadap kekebalan merek. Ada beberapa sudut pandang konsumen (negative) mengenai sales promotion:

    • Konsumen mulai sukar membedakan apakah itu diskon jadi-jadian atau diskon beneran.
    • Diskon tersebut menyadarkan konsumen bahwa selam ini marketer mengeruk banyak keuntungan yang berlebihan.
    • Bila diskon digelar setiap saat, maka konsumen akan berpikir,”Huh!! Ini sih bukan diskon. Memang harganya segitu”

    Selain itu dari sudut pandang perusahaan:

    • Sales promotion akan memangkas margin.
    • Perusahaan menyisihkan anggaran khusus untuk mengiklankan program sales promotion kepada public.
    • Sales Promotion akan menggrogoti kekeb