jump to navigation

Rahasia Bisnis Orang Cina April 14, 2008

Posted by jungkirbalik in resume buku.
add a comment

RAHASIA BISNIS ORANG CINA

LUAR BIASA !@#%%^%^

Buku yang cukup menarik untuk dibaca dan memberikan inspirasi mengenai kerja keras dan sukses orang Cina dalam membangun kerajaan bisnisnya. Buku ini ditulis oleh ann Wan Seng, seorang rantau Cina yang tinggal di Malaysia. Buku ini memberikan banyak sekali rahasia bagaimana sebuah kesuksesan pedagang Cina dalam membangun kerajaan bisnisnya dimana semuanya dimulai dari “nol”.

Saya mencoba memberikan resensi atau resume buku ini. Semoga pembaca dapat menikmati resensi ini, terlebih mau mencoba membaca bukunya secara langsung. Harapan saya, resensi buku ini mampu menolong memberikan intisari kedasyatan sharing ilmu dari Ann Wan Seng. Semoga bermanfaat.

SILAHKAN MENIKMATI?!@#!@!$#$!

Kerja Keras merupakan symbol khusus bagi pedagang Cina. Mereka memulai bekerja dari pagi buta sampai larut malam. Tujuannya satu, yaitu memajukan usaha perdagangan mereka. Mereka tidak kenal putus asa, lelah, letih, pesimis, ataupun kata-kata negative lainnya. Buktinya adalah mereka memulai semuanya dari nol. Sebagian besar adalah orang rantau dari tanah Cina, dan merantau ke Negara lain. Mereka merantau hanya bermodalkan baju yang melekat di badannya. Kebanyakan dari orang Cina tersebut tidak memiliki pendidikan atau kepandaian. Yang membuat mereka kuat adalah keinginan untuk menghidupi keluarga dan diri mereka serta ingin meningkatkan derajat mereka. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain selain bekerja lebih keras dibandingkan orang lain agar bisa melanjutkan hidupnya. Mereka rela menderita, lelah, sakit, demi memajukan usaha yang dirintisnya.

Perdagangan merupakan pekerjaan yang mereka anggap memiliki derajat tertinggi. Dengan berdagang, mereka dapat meningkatkan kemakmuran lebih dari pekerjaan yang lainnya. Selain itu, dengan berdagang akan mampu meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan bakat yang mereka miliki. Berdagang menjadi symbol terpenting orang Cina. Mereka beranggapan bahwa bekerja di kantoran alias mendapatkan gaji merupakan pekerjaan kasta rendah yang berusaha mereka hindarkan.Beberapa prinsip orang Cina yang menjadikan mereka sebagai pedagang yang sukses serta memiliki kemakmuran yag tingg, antara lain:

  • Agresif
  • Jangan melepaskan peluang
  • Berani mengambil resiko
  • Tahan Banting
  • Jangan menyerah pada nasib
  • Semangat berjuang

Keenam prinsip diatas harus diterapkan dalam perdagangan. Sekedar pintar berdagang, tidak akan memberikan hasil maksimal. Harus didukung dengan keenam prinsip tersebut.

Sebagai seorang pedagang, orang Cina sangat pandai berinvestasi. Prinsip uang harus menghasilkan uang yang lebih banyak, akan membuat mereka melupakan pola hidup konsumtif. Laba yang mereka peroleh, akan mereka investasikan ke bidang lainnya. Orang Cina Rela menebalkan muka, menahan caci maki orang, dan hidup sederhana. Setiap sen yang diperoleh dari keringatnya sendiri digunakan dengan hati-hati.

Adapun tips-tips buku ini antara lain:

- Pedagang harus menunjukkan kejujuran dan keikhlasan selagi melaksakan perdagangan.
- Pedagang harus mewujudkan kepercayaan dan ikatan yang akrab dengan pelanggan, tidak peduli apakah dia pelanggan lama atau baru, pelanggan besar atau kecil.
- Pedagang harus melayani para pelanggannya dengan baik karena mereka adalah bagian penting dari perdagangan.
- Pedagang tidak boleh menuruti perasaan dan kehendak sendiri.
- Pedagang harus mengikuti permintaan dan keperluan pelanggan.
- Pedagang harus selalu bermuka manis dan kaya senyum
- Pedagang tidak boleh marah dan membentak pelanggan.
- Pedagang bukan tauke, karena bos yang sebenarnya adalah pelanggan.
- Pedagang tidak boleh sombong, angkuh dan congkak.
- Pedagang harus rajin bekerja dan mudah mengulurkan bantuan.
- Pedagang harus siap memberikan pelayanan tambahan dan dalam konteks perdagangan ritel, mengantar barang ke rumah pelanggan.
- Pedagang tidak boleh ragu-ragu menjawab segala pertanyaan orang banyak.
- Pedagang harus menunjukkan bahwa dia adalah orang yang serbatahu terutama dalam bidang yang berkaitan dengan perdagangannya.
- Pedagang harus memperhatikan apa yang terjadi di masyarakat dan isu terkini.
- Pedagang harus memiliki kepekaan yang tinggi dan rasa simpati yang mendalam pada pelanggannya.
- Pedagang harus menjadikan pelanggannya sahabat, bukan sebagai pembeli yang datang dan pergi.
- Pedagang tidak boleh pelit memberikan diskon, pujian dan penghargaan kepada pelanggan.
- Pedagang harus bangun pagi-pagi sekali dan membuka perdagangannya secepat mungkin.
- Pedagang harus memberikan pelayanan yang cepat, jangan membiarkan pelanggan menunggu.
- Pedagang harus mudah diajak bicara dan berunding.
- Pedagang tidak boleh bersikap suka berprasangka atau menghakimi para pelanggan.
- Pedagang harus selalu berpikiran terbuka dan positif.
- Pedagang tidak boleh reaktif dan terburu-buru.
- Pedagang harus menunjukkan ke pelanggan bahwa dia selalu sibuk
- Pedagang tidak boleh tidur sewaktu menjalankan tugas dagang.
- Pedagang harus berusaha menciptakan suasana ceria bukannya menimbulkan kebosanan.
- Pedagang harus memastikan tempatnya penuh dengan barang, jangan biarkan ada ruang kosong.
- Pedagang harus memberikan kebebasan kepada pelanggan untuk membuat pilihan.
- Pedagang jangan sekali-kali turut campur dan membuat keputusan untuk pelanggan, kecuali jika diminta.
- Pedagang harus membuat pelanggan merasa kehadiran mereka dielu-elukan.
- Pedagang tidak boleh berkata “tidak” kepada pelanggan.
- Pedagang harus berperan sebagai pedagang, bukannya orang yang suka mengumpat, berjudi dan minum arak.
- Pedagang harus belajar menggunakan uang dan meningkatkan kemahiran menabung.
- Pedagang harus selalu menyediakan uang receh sebagai uang kembalian bagi pelanggan.
- Pedagang tidak boleh menunjukkan kemewahannya di depan pelanggan karena image bukan datang dari perhiasan, melainkan pelayanan yang diberikan.
- Pedagang jangan sekali-kali makan di depan pelanggan karena dianggap perbuatan yang tidak sopan.
- Pedagang harus menempel pengumuman jika tempatnya ditutup untuk sementara waktu.
- Pedagang jangan mencari musuh karena tidak baik bagi perdagangan.
- Pedagang jangan terlalu suka dan kerap membicarakan mengenai keuntungan.
- Pedagang harus tahu membedakan keuntungan jangka pendek dan jangka panjang.
- Pedagang tidak boleh terlalu yakin harus waspada dan berjaga-jaga.
- Pedagang sebaiknya tidak menjadikan tempat perdagangan sebagai tempat tinggal untuk keluarga bertandang dan menumpang makan.
- Pedagang harus menyimpan cadangan dan stok barang supaya tidak terjadi kekurangan.
- Pedagang harus menepati janji dan menyelesaikan utang.
- Pedagang tidak akan rugi jika memberikan sedikit insentif kepada pelanggan dalam bentuk potongan harga, hadiah, atau menambah berat barang yang dibeli oleh mereka.
- Pedagang tidak boleh menipu karena kepercayaan menjadi dasar utama dalam perdagangan.
- Pedagang tidak boleh menyalahkan orang lain jika terjadi kerugian dan kecelakaan. Semua harus diterima dengan hati teguh.
- Pedagang harus mewujudkan situasi win-win antara dirinya dan pelanggan. Dengan begitu, hubungan mereka akan kekal dan perdagangan akan dapat bertahan.

COMPETITIVE STRATEGY April 14, 2008

Posted by jungkirbalik in Economics.
1 comment so far

Competitive Strategy: The Basics a la Michael Porter

In his book, Competitive Strategy (Free Press: 1980), Michael Porter identifies three fundamental competitive strategies and lays out the required skills and resources, organizational elements and risks associated with each strategy. The table below is a shorthand way of referring to what Porter has to say.

Competitive Strategy

Required Skills & Resources

Organizational Elements

Associated Risks

Overall Cost Leadership

Sustained capital investment and access to capital

Process engineering skills

Intensive supervision of labor

Products designed for ease of manufacture

Low-cost distribution system

Tight cost control

Frequent, detailed reports

Structured organization and responsibilities

Incentives based on meeting strict quantitative targets

Technological change that nullifies past investments or learning

Low-cost learning by industry newcomers or followers through imitation, or through their ability to invest in state-of-the-art facilities

Inability to see required product or marketing change because of the attention placed on cost

Inflation in costs that narrow the firm’s ability to maintain enough of a price differential to offset competitors’ brand images or other approaches to differentiation

Differentiation

Strong marketing abilities

Product engineering

Creative flair

Strong capability in basic research

Corporate reputation for quality or technological leadership

Long tradition in the industry or unique combination of skills drawn from other businesses

Strong cooperation from channels

Strong coordination among functions in R&D, product development, and marketing

Subjective measurement and incentives instead of quantitative measures

Amenities to attract highly skilled labor, scientists, or creative people

The cost differential between low-cost competitors and the differentiated firm becomes too great for differentiation to hold brand loyalty. Buyers thus sacrifice some of the features, services, or image possessed by the differentiated firm for large cost savings.

Buyers’ need for the differentiating factor falls. This can occur as buyers become more sophisticated.

Imitation narrows perceived differentiation, a common occurrence as industries mature.

Focus

Combination of the above policies directed at the particular strategic target

Combination of the above policies directed at the particular strategic target

The cost differential between broad-range competitors and the focused firm widens to eliminate the cost advantages of serving a narrow target or to offset the differentiation achieved by focus.

The differences in desired products or services between the strategic target and the market as a whole narrows.

Competitors find submarkets within the strategic target and outfocus the focuser.

My work affords me the opportunity to study related topics. In this case, the topic is strategy. This is one of several occasional papers I prepared while head of Strategic Planning & Management Services at Educational Testing Service.

Objectives

Keep one ear open in almost any business environment and the term “strategy” is sure to crop up on a regular basis. Unfortunately, those using the term frequently fail to define the way in which they are using it. Nor do those hearing it bother to check to see how it is being used. As a result, conversations about strategy can become confusing.

There are at least three basic forms of strategy in the business world and it helps to keep them straight. The objectives of this brief paper are to clarify the general concept of strategy and draw attention to the importance of distinguishing among three forms of strategy: (1) strategy or “strategy in general,” (2) corporate strategy and (3) competitive strategy (Figure 1).

strategy_venn_diagram.gif (3470 bytes)

Figure 1 – Three Forms of Strategy

The Concept of Strategy

The many definitions of strategy found in the management literature fall into one of four categories: plan, pattern, position, and perspective. According to these views, strategy is:

  1. A plan, a “how,” a means of getting from here to there.
  2. A pattern in actions over time; for example, a company that regularly markets very expensive products is using a “high end” strategy.
  3. A position, that is, it reflects decisions to offer particular products or services in particular markets.
  4. A perspective, that is, a vision and direction, a view of what the company or organization is to become.

As a practical matter, strategy evolves over time as intentions accommodate reality. Thus, one starts with a given perspective, concludes that it calls for a certain position, and sets about achieving it by way of a carefully crafted plan. Over time, things change. A pattern of decisions and actions marks movement from starting point to goal. This pattern of decisions and actions is called “realized” or “emergent” strategy.

Strategy in General

Strategy, in general, refers to how a given objective will be achieved. Consequently, strategy in general is concerned with the relationships between ends and means, that is, between the results we seek and the resources at our disposal. Strategy and tactics are both concerned with formulating and then carrying out courses of action intended to attain particular objectives. For the most part, strategy is concerned with deploying the resources at your disposal whereas tactics is concerned with employing them. Together, strategy and tactics bridge the gap between ends and means (see Figure 2).

wpe2.jpg (21279 bytes)

Figure 2 – “Bridging the Gap”

Although it is not my aim to draw definitive distinctions between strategy and tactics, it is next to impossible to say something about one without also saying something about the other. The table below summarizes some of the more important differences I’ve noted in my studies and observations of strategy and tactics.

Aspects

Strategy

Tactics

Scale of the Objective

Grand

Limited

Scope of the Action

Broad and General

Narrowly Focused

Guidance Provided

General and Ongoing

Specific and Situational

Degree of Flexibility

Adaptable, but not hastily changed

Fluid, quick to adjust and adapt in minor or major ways

Timing in Relation to Action

Before Action

During Action

Focus of Resource Utilization

Deployment

Employment

Strategy and tactics are both terms that come to us from the military. Their use in business and other civilian enterprises has required little adaptation as far as strategy in general is concerned, however, corporate strategy and competitive strategy do represent significant departures from the military meaning of strategy.

Corporate versus Competitive Strategy

Corporate strategy defines the markets and the businesses in which a company will operate. Competitive or business strategy defines for a given business the basis on which it will compete. Corporate strategy is typically decided in the context of defining the company’s mission and vision, that is, saying what the company does, why it exists, and what it is intended to become. Competitive strategy hinges on a company’s capabilities, strengths, and weaknesses in relation to market characteristics and the corresponding capabilities, strengths, and weaknesses of its competitors. According to Michael Porter, a Harvard Business School professor and the reigning guru of competitive strategy, competition within an industry is driven by five basic factors:

  1. Threat of new entrants.
  2. Threat of substitute products or services.
  3. Bargaining power of suppliers.
  4. Bargaining power of buyers.
  5. Rivalry among existing firms.

Porter also indicates that, in response to these five factors, competitive strategy can take one of three generic forms: (1) focus, (2) differentiation and (3) cost leadership.

Other Factors Affecting Corporate and Competitive Strategy

Other writers on the subject of strategy point to several factors that can serve as the basis for formulating corporate and competitive strategy. These factors include:

Products-services offered

Sales-marketing methods

Users-customers served

Distribution methods

Market types and needs

Natural resources

Production capacity-capability

Size/growth goals

Technology

Return/profit goals

Recently, “value disciplines” have been suggested as the basis for settling on strategy (corporate or competitive). The three basic “value disciplines” are:

Operational Excellence

Strategy is predicated on the production and delivery of products and services. The objective is to lead the industry in terms of price and convenience.

Customer Intimacy

Strategy is predicated on tailoring and shaping products and services to fit an increasingly fine definition of the customer. The objective is long-term customer loyalty and long-term customer profitability.

Product Leadership

Strategy is predicated on producing a continuous stream of state-of-the-art products and services. The objective is the quick commercialization of new ideas.

Some Fundamental Questions

Regardless of the definition of strategy, or the many factors affecting the choice of corporate or competitive strategy, there are some fundamental questions to be asked and answered. These include the following:

Related to Mission & Vision

  • Who are we?
  • What do we do?
  • Why are we here?
  • What kind of company are we?
  • What kind of company do we want to become?
  • What kind of company must we become?

Related to Strategy in General

  • What is our objective? What are the ends we seek?
  • What is our current strategy, implicit or explicit?
  • What courses of action might lead to the ends we seek?
  • What are the means at our disposal?
  • How are our actions restrained and constrained by the means at our disposal?
  • What risks are involved and which ones are serious enough that we should plan for them?

Related to Corporate Strategy

  • What is the current strategy, implicit or explicit?
  • What assumptions have to hold for the current strategy to be viable?
  • What is happening in the larger, social, political, technical and financial environments?
  • What are our growth, size, and profitability goals?
  • In which markets will we compete?
  • In which businesses?
  • In which geographic areas?

Related to Competitive Strategy

  • What is the current strategy, implicit or explicit?
  • What assumptions have to hold for the current strategy to be viable?
  • What is happening in the industry, with our competitors, and in general?
  • What are our growth, size, and profitability goals?
  • What products and services will we offer?
  • To what customers or users?
  • How will the selling/buying decisions be made?
  • How will we distribute our products and services?
  • What technologies will we employ?
  • What capabilities and capacities will we require?
  • Which ones are core?
  • What will we make, what will we buy, and what will we acquire through alliance?
  • What are our options?
  • On what basis will we compete?

Summary

The preceding discussion asserts that strategy in general is concerned with how, with courses of action intended to achieve particular objectives. Corporate strategy is concerned with choices and commitments regarding markets, business and the very nature of the company itself. Competitive strategy is concerned with competitors and the basis of competition. These basic points are illustrated in Figure 3.

three_forms_of_strategy.gif (7311 bytes)

Figure 3 – Focal Points of Strategy

Recommended Reading

Much of the preceding discussion is drawn from many well-known sources. To list them all would entail inserting an extensive bibliography right about here. Instead, I’ve chosen to list what I consider some “essential” readings.

  1. Competitive Strategy (1986). Michael Porter. Harvard Business School Press.
  2. The Concept of Corporate Strategy, 2nd Edition (1980). Kenneth Andrews. Dow-Jones Irwin.
  3. “Customer Intimacy and Other Value Disciplines.” Michael Treacy and Fred Wiersema. Harvard Business Review (Jan-Feb 1993).
  4. The Discipline of Market Leaders (1994). Michael Treacy and Fred Wiersema. Addison-Wesley.
  5. The Rise and Fall of Strategic Planning (1994). Henry Mintzberg. Basic Books.
  6. Strategy (1967). B. H. Liddell Hart. Basic Books.
  7. Strategy: Pure and Simple (1993). Michel Robert. McGraw-Hill.
  8. Top Management Strategy (1980). Benjamin Tregoe and John Zimmerman. Simon and Schuster.
  9. “What is Strategy?” Michael Porter. Harvard Business Review (Nov-Dec 1996).

HOT MARKETING Maret 13, 2008

Posted by jungkirbalik in resume buku.
Tags: ,
add a comment

IDE GILA DAN KREATIF !!!!#@$@#

Cara pandang yang begitu luar biasa, tulisan yang begitu dinamis, dan ide yang cemerlang menjadikan buku ini menjadi salah satu pilihan untuk dibaca. Majalah pengusaha sendiri memberikan sebuah statement bahwa buku ini telah menjadi buku paling berbahaya tahun ini. Buku ini berjudul “HOT MARKETING- 15 Cara Paling Panas Mengorbitkan Merek” (penilis Ippo Santoso) mampu menyajikan ide yang mungkin sering sekali kita dengar, namun buku ini telah memberikan bukan sekedar teori tetapi sebuah esensi bisnis yang begitu luar biasa.

Saya merekomendasikan untuk membaca buku ini, dan saya percaya teman-teman akan mendapatkan pencerahan yang membawa kepada pengetahuan baru. Saya rasa harganyapun cukup terjangkau. Seperti tulisan saya sebelumnya, saya akan menyajikan resume dari buku ini. Semoga anda tertarik untuk membacanya.

marketing hot
Buku ini memberikan kepada kita bahwa ada 15 cara paling panas untuk mengorbitkan merek, antara lain:

1. Pertama-tama, patuhi aturan A & W

Sebuah merek hendaknya accountable & writeable (mudah diucap dan mudah ditulis). Sebab banyak orang akan mengaktifkan komunikasi merek setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Salah satu masalah yang dimiliki konsumen adalah pengingatan. Oleh sebab itu, sangat diperlukan mematuhi hukum pertama ini, agar awareness konsumen akan merek kita meningkat tajam, dan pada akhirnya akan menjadi top mind dalam benak konsumen.

Contoh merek yang mudah diucapkan dan ditulis sehingga mudah diingat oleh konsumen, antara lain, Rinso, ABC, Intel, dll

Contoh merek yang tidak mengikuti hukum ini, antara lain, PricewaterhouseCooper, HSBC, Kratingdaeng. (perlu usaha ekstra untuk mengucapkan dan menuliskan merek-merek ini)

2. Maknai Benak Konsumen

Perang yang sesungguhnya adalah bagaimana merek kita di benak konsumen. Yang harus dilakukan adalah pastikan merek kita mengandung makna tertentu di benak konsumen

Contoh: Lexus identik dengan luxurious

Selain itu ada beberapa nasehat lain,:

  • Merek jangan mengandung angka, kecuali angka itu ada maknanya bagi target pasar(contoh Formula 44, You C-1000, M-50)
  • Iringilah merek dengan business description, positioning statement, dan vision statement.

3. Bangkitkan dan tularkan Roh

Sewaktu bisnis berdiri pertama kali, bisnis itu hampa. Jadi hendaklah sang founder membangkitkan “ROh” itu sekaligus menularkan kepada karyawan, seterusnya pada perusahaan.

Contoh, Di usia ke 60 tahun, Thomas Alfa Edison menerima musibah dimana kebakaran yang hebat menghabiskan laboratorium terlengkap yang dia miliki. Namun dia malah mengatakan, “Saya belum terlalu tua untuk memulai yang baru”. Iapun merintis laboratoriumnya kembali dan tetap bekerja kerasselama 17 th berikutnya. Kemudian sejarah mencatat, laboratorium tersebut menjadi cikal bakal perusahaan yang paling disegani, yaitu GE.

4. Bentuklah Personality

Merek akan tetap menjadi benda mati, sebelum dibentuk personality-nya. Wujudkan personality-nya agar merek terkesan hidup juga berinteraksi dengan pelanggan. Misalnya, extra joss pada awalnya hanya merek mati, tapi Karena pemasaran yang dilakukannya maka orang mengenal extra joss sebagai tangguh, lalu contoh lain seperti Trans TV sebagai pendobrak, Nestle sebagai susu berkualitas dari swiss, dll. Caranya adalah menjadikan personality merek kita menjadi kongkret

5. Nikmati Masa Kecil

Selagi bisnis kita masih kecil, nkmati betul-betul masa tersebut. Jangan terlalu rendah diri atau merasa “seharusnya kita menjalankan usaha yang besar”. Semakin besar usaha kita, ada kemungkinan kita sudah tak mampu menanganinya. Ada beberapa manfaat

  • Segeranya perubahan
  • Tidak kelihatannya ‘dosa-dosa’
  • Citra
  • Teredamnya persaingan
  • Daya Juang
  • Lebih ke Personal touch

6. Perkuat Barisan Internal

Sebuah bisnis tak ubahnya dengan helicopter. Mengudaralah setelah memeriksa mesinnya terlebih dahulu. DEngan kata lain, perkuatlah barisan internal, sebelum kita mengurusi mengenai pemasaran. Sebuah perumpamaan. Misalnya saya seorang penyanyi yang punya mimp untuk go internasional. Yang harus saya lakukan adalah memperbaiki kondisi internal. Misalnya dengan belajar bahasa inggris, tetap les menyanyi, dll.

Contoh: Lipposhop.com. Mereka mau menyamai atau meniru amazon.com. sayangnya, Supply chai-nya keteteran. Walhasil, ending cerita lipposhop.com bubar jalan!!.

7. Tebarkan Story for Glory

Proyek dengan embel-embel termahal akan memicu sensasi, menggedor perhatian public, menjadi buah bibir, dan pada akhirnya meroketkan penjualan. Banyak comtoh penggunaan Story of Glory, misalnya, melalkukan sesuatu untuk medapatkan Guiness World Record, Muri, atau juga mengadakan proyek dengan label termahal, terbanyak, dan ter- yang lainnya.

8. Waspadai Pisau Bermata Dua

Disatu sisi sales promotion dapat membawa manfaat. Tapi disisi lainnya, sales promotion yang seradak seruduk juga dapat mengundang malapetaka, terutama terhadap kekebalan merek. Ada beberapa sudut pandang konsumen (negative) mengenai sales promotion:

  • Konsumen mulai sukar membedakan apakah itu diskon jadi-jadian atau diskon beneran.
  • Diskon tersebut menyadarkan konsumen bahwa selam ini marketer mengeruk banyak keuntungan yang berlebihan.
  • Bila diskon digelar setiap saat, maka konsumen akan berpikir,”Huh!! Ini sih bukan diskon. Memang harganya segitu”

Selain itu dari sudut pandang perusahaan:

  • Sales promotion akan memangkas margin.
  • Perusahaan menyisihkan anggaran khusus untuk mengiklankan program sales promotion kepada public.
  • Sales Promotion akan menggrogoti kekebalan merek (debranding)

9. Abaikan Mitos Kualitas

Kualitas adalah kualitas. Penjualan adalah hal yang lain. Terkadang, hamper-hampir tidak ada hubungan antara kedua-duanya. Yang harus kita lakukan adalah mengetahui ada dua jenis kualitas, yaitu kualitas actual dan kesan kualitas.

Kesan kualitas adalah persepsi konsumen terhadap totalitas mutu dan keunggulan merek.Kualitas actual adalah real kualitas yang ada pada sebuah produk/jasa. Seringkali pembelian yang dilakukan konsumen adalah berdasarkan kesan kualitas.

10. Bergeraklah seperti 5 Wheel Drive

Merek harus menyangkut akan 4 dimensi yang krusial, antara lain rasional, emosional, spiritual, dan fisik.

11. Tirulah Pendaki Gunung

Tingkat kesulitan yang dialami pendaki gunung adalah ketika dia mau mencapai puncak, bukan pada saat dia sampai di puncak. Yang menjadi pelajaran adalah bahwa proses menuju sukses menjadi sangat penting dibandingkan saat kita ada di puncak. Strategi yang bisa kita terapkan adalah focus.

12. Ajukan 1001 Alasan

Agar marketable, ajukanlah alas an demi alas an. Tentu saja, dengan mematuhi rambu-rambunya. Salah satunya adalah, jangan lengah dengan fenomena admired, but not adopted.

13. Sambutlah Antibrand

Contoh, di dunia entertainment, dimana popularitas seseorang celebrity juga sering dibuntuti oleh tantangan. Lihat saja, Britney Spears yang dikecam oleh Christina Aquilera, Backstreet Boy diejek oleh Blind 182, Inul dihujat oleh Rhoma Irama. Apakah penolakan-penolakan tersebut mampu memudarkan populeritas mereka? Jawabannya tidak. Lihat juga kasus Fleksi, Frend dll. Manfaat nomor satu antibrand adalah melejitkan bahkan melambungkan populeritas.

14. Tetaplah Awet Muda

Lakuakan terus Brand revitalisasi, dimana kita membuat merek kita muda kembali.

15. Lestarikan Keunikan

Ujian terberat dalam branding adalah waktu. Di satu sisi, waktu yang memupuk kekuatan merek. Namun disisi lain-seandainya ceroboh- waktu jualah yang memangkas keunikan merek.

 

Subprime Mortgages (seri 2) Maret 6, 2008

Posted by jungkirbalik in Economics.
add a comment

 

Saya mencoba kembali menggali lebih dalam mengenai kasus Suprime Mortgages. Aku menemukan beberapa bahan dari Business Weeks bulan februari’08. Ini merupakan sedikit tambahan informasi mengenai Suprime Mortgage dan beberapa hal yang berkaitan dengan resesi yang terjadi di Amerika. Silahkan menikmati tulisan sederhana ini:

Pada tanggal 22 Januar’08i,sebuah keputusan yang cukup mengejutkan yang diambil oleh Bank Sentral Amerika yaitu dengan menurunkan suku bunga sebesar 0,75 poin persentase. . Tindakan ini diikuti oleh The Fed, tanggal 30 Januari’08, dengan menurunkan suku bunga sebesar 0,5 poin persentase. Hal ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan untuk masalah resesi yang sedang terjadi di Amerika dan beberapa masalah yang sedang dialami oleh Amerika, antara lain masalah pasar perumahan (subprime mortgages), Belanja rumah tangga, utang konsumen, laba sector keuangan, dan masih banyak masalah lain.

Dalam skenario klasik, hal itu akan mulai memicu kembali pertumbuhan ekonomi dan membuat harga saham melonjak lebih tinggi. Pertanyaannya, akankah hal itu akan terjadi kali ini, di tengah tekanan kredit terburuk yang pernah terjadi? Lalu apa kabar baiknya? Tingkat korporasi mulai bergerak kearah yang benar.

Namun ketakutan yang sebenarnya adalah bila The Fed menurunkan suku bunga, maka akan beresiko terhadap inflasi (jika suku bunga bunga turun, akan menyebabkan orang akan berbondong-bondong menarik uang yang ada dibank. Hal ini akan membuat uang yang beredar bertambah. Meningkatnya uang beredar bisa menyebabkan nilai uang akan menurun. Nilai uang yang menurun mengindikasikan harga naik secara tajam. Inilah yang membuat inflasi), apalagi harga minyak saat ini masih tinggi. Inflasi tersebut akan mengikis hasil asset riil, meniadakan potensi pasar yang bergairah. Selain itu, tingkat suku bunga yang rendah akan mengakibatkan nilai dolar akan lebih rendah dibanding mata uang lain. Melemahnya nilai dolar akan dimanfaatkan pemain asing yang kelebihan dana untuk dibelanjakan di Amerika. Mereka akan masuk untuk membeli asset-aset Amerika yang lebih murah. Kemungkinan besar banyak orang Amerika yang akan marah bila orang asing membeli banyak asset AS.

Beberapa hal yang menstinya diperhatikan agar resesi besar yang sedang terjadi bisa diminimkan, dan bahkan dihilangkan:

· BELANJA PERORANGAN

Yang terjadi di Amerika adalah bahwa bahwa tingkat konsumsi di AS ternyata secara Global ternyata lebih besar dari pendapatan (PDB). Buktinya, sejak kuartal ketiga tahun 2007, tingkat pertumbuhan konsumsi 10 tahunan mencapai 3,6%. Bandingkan dengan pendapatan pada tahun yang sama yaitu 2,9%. Hal inilah yang mesti diperhatikan oleh AS. Bagaimana cara pemerintah bisa membuat belanja konsumsi tidak melebihi pendapatan.

· KREDIT KONSUMEN

Periode 10 tahun terakhir adalah periode hura-hura kredit konsumen terbesar sepanjang masa. Dibandingkan dengan inflasi, utang konsumen – termasuk Hipotek – rata-rata naik 7,5% pertahun sejak 1997. Oleh sebab itu, kita harus memperhatikan bagaimana behavior kita akan kredit.

· PENDAPATAN PERUSAHAAN

Dalam beberapa tahun ini kita telah melihat boom laba, Pendapatan korporasi, sebagaimana diperhitungkan ahli statistic pemerintah, rata-rata mencapai 8% PDB di sepanjang decade terakhir. Angka ini naik dari 6,5% pada awal tahun 1960-an. Inilah yang membantu mendongkrek nllai saham. Telah terjadi lonjakan laba yang sangat signifikan. Namun yang disayangkan adalah hanya satu sector saja yang mengalami :sector keuangan. Lembaga-lembaga keuangan telah memanfaatkan boom kredit konsumen, munculnya instrument-instrumen baru, dan tingkat bunga yang relative rendah.

· PRODUKTIFITAS

Tanda paling jelas bagi kesehatan ekonomi AS adalah terlihat dari pertumbuhan produktivitas atau output per jam kerja. Makin cepat kenaiikan produktivitas, semakin cepat ekonomi tumbuh tanpa menghasilkan inflasi- dan akan semakin tinggi standart hidup.

· BURSA SAHAM DAN PERTUMBUHAN GLOBAL

Keyakinan bahwa ekonomi global masih akan bertumbuh merupakan salah satu faktor yang menyebabkan investor masih memiliki harapan untuk berinvestasi di Amerika.

SUBPRIME MORTAGES (seri 1) Februari 28, 2008

Posted by jungkirbalik in Economics.
2 comments

Waktu mendengar presentasi teman-teman saya di mata kuliah Corporate Strategy, saya sangat tertarik dengan salah satu topik, yaitu Suprime Mortgages. lalu saya mencoba mencari beberapa alur cerita yang mungkin lebih komprehensif dan mudah di mengerti oleh saya. Saya coba cari di berbagai sumber. Bersyukur, dengan tehnologi internet, kita bisa mencari ribuan data yang kita inginkan. SAya harap, pembaca bisa mendapatkan informasi yang komprehensif. Mungkin untuk tugas Studi atau sekedar mendapatkan informasi.

Bukan berarti dengan menulis topik ini saya sudah menguasai. Namun saya tetap terus belajar, supaya tidak ketinggalan informasi penting. (saya kan cuma caplok sana caplok sini, heee….) Semoga apa yang saya tulis bisa menjadi berkah buat pembaca.

PENDAHULUAN

Beberapa bulan ini, topic Subprime Mortgage menjadi berita hangat, bukan hanya di Amerika tetapi juga di seluruh dunia. Fenomena ini di mulai pada pertengahan tahun 2006. Telah memberikan sentiment negative pada Negara-negara di dunia, terkhusus di Indonesia. Sadar atau tidak, Amerika telah menjadi center of view dalam berbagai bidang. Kalau dilihat dari mata uang Amerika (Dollar), yang selama ini telah menjadi patokan mata uang sebagian besar Negara di dunia, menjadi salah satu contoh bagaimana Amerika telah menjadi center of views.

Krisis Keuangan 2007 akibat Subprime Mortgage adalah sebuah keadaan dimana banyak rumah yang disita dimulai dari negara Amerika Serikat yang dimulai pada resesi tahun 2006 dan menjadi krisis keuangan global pada tahun 2007.

Krisis bermula dari meledaknya persediaan rumah di AS dan tingginya angka suku bunga kredit yang dikenal orang sebagai “subprime”, “suku bunga yang disesuaikan”, “Alt-A” dan jenis lain dari pinjaman hipotek (mortgage) resiko tinggi yang dibebankan kepada peminjam yang berpendapatan rendah atau peringkat rendah (subprime) dari penerima kredit. Kebalikan dari Subprime adalah Prime dimana pihak-pihak yang termasuk didalamnya adalah orang-orang yang berpendapatan tinggi dan yang terpenting ialah mereka mampu melunasi kredit yang diambilnya.

Total yang harus dibayar oleh orang-orang yang termasuk subprime adalah Pokok Pinjaman ditambah 9% bunga(tahun 1996) hingga 20% (tahun 2006). Para peminjam dari kategori Sub tersebut percaya bahwa mereka dapat melunasi pokok pinjaman ditambah bunga tersebut pada tanggal jatuh tempo berikutnya. Ketika harga rumah di AS mengalami kenaikan pada tahun 1996-2006, maka pelunasan hutang harus segera dimulai. Kenyataannya mudah ditebak, banyak dari kaum “Sub” yang tidak dapat melunasi hutangnya. Berikutnya yang terjadi ialah terjadinya penutupan dan penyitaan secara dramatis. Pada bulan Oktober 2007, 16% dari total pinjaman hipotek(subprime) dengan Batas Waktu Pinjaman (Adjustable Rate Mortgages/ARM) 90 hari dianggap menunggak dan dilanjutkan dengan proses penyitaan. Persentase tersebut meningkat tiga kali lipat bila dibandingkan pada tahun 2005. Pada bulan Januari 2008 jumlahnya meningkat menjadi 21%. Selama tahun 2007, hampir 1,3 juta rumah di AS termasuk dalam kategori proses penyitaan atau naik 79% bila dibandingkan dengan tahun 2006. Pada tanggal 22 Desember 2007, kerugian sektor perumahan dihitung sebesar 200 hingga 300 milyar dollar AS.

Banyak dari para pemberi pinjaman memberikan resiko kredit (resiko pembayaran standarisasi) yang berakibat para peminjam tidak dapat berharap untuk memperoleh kredit lagi untuk melunasi hutangnya. Banyak bank dan institusi keuangan lain melaporkan kerugian sebesar 130 milyar dollar AS menurut sebuah laporan pada tanggal 25 Januari 2008. Surat utang yang sering dikeluarkan adalah sekuritas. Banyak pemberi pinjaman meneruskan kredit tersebut pada pihak ketiga via Mortgage-Backed Securities (MBS). Banyak individu dan perusahaan investasi terkait dengan MBS mengalami kerugian secara signifikan, dan ditambah lagi dengan sulitnya memprediksi pokok pinjaman yang sebenarnya.

PENGERTIAN SUBPRIME MORTGAGES

Di sini ada dua istilah, Subprime dan Prime. Subprime lending (also known as B-paper, near-prime, or second chance lending) is the practice of making loans to borrowers who do not qualify for the best market interest rates because of their deficient credit history (Wikipedia, free enscyclomedia). Istilah “Subprime” mengacu pada status kredit peminjam (kurang ideal), Sedangkan “Prime” mengacu pada kondisi atau status kredit peminjam yang ideal. Salah satu cara mengukur kelayakan kredit konsumen dilakukan dengan cara melihat credit score. Sistem pemberian KPR di Amerika sangat bergantung terhadap credit score yang dikeluarkan oleh perusahaan credit scoring seperti yang mengunakan metode FICO. Sebagai informasi, konsumen dapat memiliki FICO score mulai dari 300 s/d 850 tergantung dari hasil perhitungan yang dilakukan oleh perusahaan penyedia jasa credit score dengan melihat 5 katagori utama seperti dibawah ini:

1. Payment history (35%)
2. Amounts owed (30%)
3. Length of credit history (15%0
4. New credit (10%)
5. Types of credit used (10%).

Walau berubah secara periodik, pada saat ini rata-rata credit score untuk konsumen di Amerika berkisar 620. Semakin rendah credit score (FICO<620), semakin kurang kelayakan dari konsumen tersebut mendapatkan KPR. Subprime mortgage borrower diberikan kepada konsumen yang memiliki FICO score < 620.

catatan tambahan: untuk Prime borrowers memiliki ciri-ciri score/nilai FICO diatas 620 (credit score antara 350-850 dengan median di AS sekitar 678 dan mean 723), Debt to Income (DTI) tidak lebih besar dari 75% (artinya bahwa tidak lebih dari 75% dari pembayaran bersih prumahan dan utang lainnya), dan kombinasi loan to value ratio sebesar 90% (artinya, bahwa peminjam bias membayar 10% downpayment)

Selain credit score, subprime mortgage loan juga bisa terlihat dari beberapa hal:
1. Tingginya rasio Loan-to Value hingga 100%
2. Agunan KPR yang tidak memenuhi fundamental perhitungan value-nya.
3. Ketidak lengkapan dokumentasi KPR (low-doc) atau tidak ada verifikasi terhadap pendapatan (stated income), sumber downpayment & sejarah bekerja.
4. Tingginya Debt-to-Income (DTI) dan Payment to Income (PTI)

Karakteristik diatas secara langsung menaikan risiko terhadap penyalur KPR. Dari satu sisi, meningginya risiko dikompensasikan dengan suku bunga tinggi dan fitur khusus lainnya. Disisi lain, tingginya suku bunga menyebabkan ketidak mampuan konsumen untuk mendapatkan KPR. Dalam hal ini, penyalur KPR membuat produk KPR yang tetap mengkompensasikan tingginya risiko akan tetapi dapat dijangkau oleh konsumen, paling tidak agar dapat dioriginasi.

Produk subprime mortgage loan yang terkenal adalah 2/28 ARMS. Jenis KPR ini cukup berkembang dimana mencakup hampir 75% dari adjustable subprime mortgage loan dioriginasi. Produk ini memiliki fitur dua tahun pertama fix rate yang bersifat Teaser Rate dan akan berubah pada akhir tahun kedua menjadi adjustable rate dan setiap tahun berikutnya.

Yang menjadi permasalahan adalah penyalur KPR dalam mengoriginasi KPR mengukur kemampuan membayar konsumen dengan menggunakan Teaser Rate yang rendah. Pada saat suku bunga KPR berubah pada akhir tahun kedua menjadi adjustable rate, pembayaran bulanan konsumen dapat meningkat secara drastis karena marjin untuk konsumen dengan risiko profil tinggi dapat mencapai 300-500 basis poin. Hal ini menyebabkan konsumen yang memang kurang layak kredit mengalami kesusahan membayar cicilan KPR, dan kemudian gagal bayar.

Selain itu, terjadi Predatory Lending practice yang dilakukan oleh penyalur KPR nakal. Segmen konsumen diatas dikibuli dengan bermacam taktik seperti secara sengaja memberikan jumlah pinjaman tinggi dengan suku bunga tinggi kepada kepada konsumen yang jelas tidak mampu membayar. Diharap jika terjadi gagal bayar maka agunan akan eksekusi dan penyalur KPR mendapat keuntungan dari penjualan rumahnya.

Apa yang terjadi dengan Subprime mortgage loan di Amerika?

Pertumbuhan subprime mortgage market di Amerika meningkat dengan cepat yang mencapai 22% dari total originasi KPR dalam jumlah total sisa pinjaman lebih $650 juta pada akhir tahun 2006. Beberapa faktor utama meningkatnya pasar. Dari sisi demand, sektor perumahan yang baik selama tahun 2002- 2005, rendahnya suku bunga KPR & apresiasi harga rumah. Dari sisi suplai, dengan yang tinggi demand dan masih terbukanya peluang usaha, penyalur KPR berbodong-bondong masuk ke pasar ini untuk menawarkan jasanya.

Dengan meningkatnya kompetisi, penyalur KPR bersaing untuk mendapat konsumen dengan menawarkan produk KPR yang cukup bervariasi tanpa mengenal secara mendalam karakterisktik risikonya serta me-relaxkan ketentuan originasi KPR. Hal ini mengakibatkan banyak KPR dengan fitur berisiko tinggi yang disetujui untuk konsumen yang tidak layak.

Dengan menurunnya pertumbuhan sektor perumahan semenjak awal 2006 yang ditandai dengan menurunya peningkatan harga rumah dan meningkatnya suku bunga KPR, banyak konsumen KPR di pasar ini yang mengalami kesulitan membayar angsuran dan kemudian dinyatakan gagal bayar.

Hasil survei yang dikeluarkan oleh Mortgage Banker Association (MBA) mengatakan bahwa delinquency rate untuk subprime mortgage loans untuk Q4-2006 berada di 13,33%. Sebagai perbandingan, deliequency rate untuk prime mortgage loan berkisar 2,57 %. Sementara itu, foreclosure rate adalah 2% dibanding 0,24% untuk subprime & prime mortgage loan per Q4-2006. Dan foreclosure inventory ratea adalah 0,5% dan 5,1% untuk subprime & prime mortgage loan per Q4-2006.

BIAYA KRISIS

Krisis subprime AS telah mengakibatkan nilai kerugian di pasar modal global sekitar 7,7 triliun dolar AS, demikian sebuah laporan oleh Bank of America. Krisis, yang telah meluas ke bank-bank dan sektor lainnya di seluruh dunia, adalah salah satu terganas dalam sejarah keuangan, demikian Kepala Analisa Pasar Bank of America, Joseph Quinlan, Kamis (14/2).

Quinlan mengatakan dalam laporannya, bahwa kerugian tersebut lebih buruk daripada beberapa dekade lalu, termasuk Black Monday di Wall Street pada 1987, krisis mata uang riil di Brasil pada 1999 dan jatuhnya hedge fund Long Term Capital Management (LTCM) pada 1998.

Sebuah analisa oleh bank AS menunjukkan bahwa dalam episode terbaru terkait subprime mortgage, atau risiko-tinggi, pinjaman real estate untuk orang dengan reputasi kredit buruk, mengakibatkan kapitalisasi pasar dunia turun 14,7 persen tiga bulan setelah puncaknya pada akhir Oktober.

Dibandingkan dengan kerugian serupa dalam waktu tiga bulan, sebesar 13,2 persen setelah krisis LTCM, 9,8 persen untuk Black Monday dan 6,1 persen untuk krisis Brasil.

Kerugian tersebut juga lebih besar daripada yang diderita setelah serangan teroris 11 September 2001, krisis keuangan Asia yang dimulai 1997, kegagalan utang Argentina pada 2001 dan krisis peso Meksiko pada 1994.

 

Terima Kasih Tuhan Februari 22, 2008

Posted by jungkirbalik in related information.
add a comment

praytg9.jpg
Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga. Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, ” Ini adalah Seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima”.

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia. Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.

Malaikat-ku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Disini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya”.

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun. “Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata Malaikatku pelan. Dia tampak malu.

“Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?”, tanyaku.

“Menyedihkan”, Malaikat-ku menghela napas. ” Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih”.

“Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?”, tanyaku.

“Sederhana sekali”, jawab Malaikat. “Cukup berkata, “Terima kasih, Tuhan’ “.

“Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri”, tanyaku.

Malaikat-ku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.”

“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.”

“Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu. Juga…. Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan … engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.”

“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia”.

“Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan … maka engkau termasuk orang yang sangat jarang. jika engkau masih bisa mencintai … maka engkau termasuk orang yang besar, Karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari manapun”

“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik bila dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan. “

“Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih diberkati daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali”.

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-teman-mu untuk mengingatkan mereka betapa diberkatinya kita semua.

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu’ “. Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih.

“Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anugerahmu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi”.

Butterfly Story Februari 21, 2008

Posted by jungkirbalik in related information.
1 comment so far

 images1.jpg

Selama kita hidup, masalah, tantangan, problema, dan badai hidup selalu menemani kita. Namun yang selalu menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa menghadapinya? ada sebuah kisah yang sangat menyentuh pribadi saya. Ketika saya mengalami begitu banyak masalah dalam hidup ini, saya mencoba untuk mengingat cerita tentang seekor kupu kupu yang baru mau terbentuk dari kepompong (butterfly story). Kisah ini mencoba memberikan pelajaran kepada kita, bagaimana ternyata tantangan, masalah, dan badai hidup akan membuat kita lebih kuat di masa yang akan datang. Jangan lari dari masalah, tetapi hadapilah masalah dengan sikap positif, dan belajarlah dari masalah hidup. niscaya kita akan diberi kedewaan penuh.

Bukalah file dengan klik disini: butterfly-story

The Starbucks Experience Februari 21, 2008

Posted by jungkirbalik in resume buku.
2 comments

Sangat menarik ketika saya membaca buku ini (The Starbucks Experience, karya Joseph A. michelin). Disini saya mau membagikan sedikit ringkasan mengenai buku tersebut. Memang tidak terlalu sempurna. Maka saya sarankan untuk membaca buku ini.

Buku ini menjelaskan bahwa ada 5 strategi yang dipakai starbucks, antara lain: lakukan dengan cara anda, semuanya penting, surprice and delight, terbuka terhadap kritik, dan leave your mark. Strategi-strategi inilah yang membuat bisnis ini menjadi bisnis yang langgeng.

SIlahkan menikmati resume buku tersebut:

 

bevlineup_header_02.jpg

PENDAHULUAN

Pada tahun 1971, Kedai kopi, teh, dan Rempah Starbucks memulai bisnis di Seattle, Washington. Fenomena yang terjadi pada saat itu adalah terjadi kemonotonan dan kualitas yang buruk sehingga orang menjadi tidak tahu cara menikmati kopi yang menyenangkan. Yang orang rasakan saat minm kopi di kedai kopi adalah mereka sekedar minum, bila kopinya pahit akan ditambah krim atau gula, lalu membayar di kasir. Inilah fenomena kemonotonan yang terjadi . Lalu Howard Schultz, mantan CEO Starbucks, memiliki visi bahwa Starbucks bias mengubah “pengalaman minum kopi” di Amerika dari yang biasa menjadi luar biasa.

Ada banyak pihak yang menentang visi Schultz tersebut. Hal ini tergambar pada kalimat berikut ini:

Bagaimana cara anda mengilhami seseorang penggemar kopi untuk mengorbankan rutinitas kesehariannya sekaligus membuatnya bersedia membayar enam atau delapan kali lebih mahal demi racikan kopi yang eksotis dan kaya rasa bila selama ini dia hanya tahu kopi yang “biasa”? Selain itu, siapa yang mau meluangkan waktu untuk merasakan pengalaman berada di kedai kopi bergaya eropa kalau bisa menikmati kopi sambil membeli susu, bensin dan Koran.”

Bisakah “ide gila” Schultz menjadi kenyataan? Yang pasti jawaban dari pertanyaan tersebut adalah bahwa “ide gila” Schultz sudah terlaksana, bahkan melampaui ekspektasinya. Pertanyaan selanjutnya adalah strategi, cara, atau prinsip apa yang telah dilakukan oleh Schultz hingga bisnisnya bias menjadi bisnis yang sangat cepat, bahkan bisa berkembang sebesar 5000 %.

“….. seseorang hanya perlu mengetahui bahwa sejak 1992, nilai S&P naik 200%, Dow 230%, Nasdaq 280%, tetapi starbucks?- 5000%”

INTI

Penulis BUku ini telah mengamati dunia Starbucks selama 18 bulan, dan menyimpulkan bahwa ada 5 Prinsip Bisnis yang diterapakan oleh Starbucks.

    Lakukan dengan cara anda

Ada Lima Kiat sukses yang dilakukan oleh Starbucks, yaitu: “Ramah, Tulus, Perhatian, Berwawasan, Peduli.”

Untuk memperkuat konsep ini, manajemen Starbucks menciptakan sebuah pamphlet yang muat dimasukkan ke dalam cemelek mitra, sehingga cocok disebut ‘Green Apron Book (Kitab Celemek Hijau)’. Buku ini menawarkan ide-ide konkret tentang bagaimana menciptakan hubungan yang personal dengan pelanggan dengan cara memberi, berhubungan, dan meningkatkan interaksi pelanggan. (hal 25).

Lalu Brown dan martin menjelaskan bahwa:

“……. Green Apron Book bersama dengan lima kiat sukses Starbucks, benar-benar merangkum filosofi inti dari starbuck…..”

  • Ramah

    • Di Starbucks, “ramah” adalah cara utama untuk menjadikan kunjungan pelanggan sebagai permulaan yang positif.

    • Definisi “ramah” menurut starbucks adalah menawarkan rasa memiliki kepada semua orang

    • Para pemimpin mengharapkan para mitra menggunakan gaya unik mereka sendiri dalam menciptakan perjumpaan yang ramah.

    • Jadi di Starbucks, sangat memprioritaskan keramahan, menunjukkan apa yang disebut dengan ramah, menyegarkan citra tersebut, dan kemudian membiarkan para mitranya menerapkan konsep itu dengan cara mereka sendiri ketika membawa kedalam kehidupan orang-orang yang mereka layani.

  • Tulus

  • Di starbucks, bersikap tulus berarti “berhubungan, menemukan, dan merespon.”

Berhubungan berarti mencoba menemukan keterkaitan khusus antara pribadi konsumen dengan realitas yang ada di Starbucks.

Menemukan berarti Menemukan akan dari setiap pelanggan dan situasi individual.

Merespon adalah menindaklanjuti dengan segera apa yang mereka dengar, dan belajar dari pengalaman ini demi interaksi dengan pelanggan di masa yang akan datang.

  • Contoh menarik:

“…. Saat itu hari sabtu, dan seorang wanita malang yang sedang dirundung kesedihan masuk. Itu adalah kunjungan pertamanya. Daftar menu kami bias saja sedikit menakutkan, kemudian dia menatapnya lalu hanya memesan kopi biasa. Ketika kami bertanya apa kah dia tidak ingin mencoba sesuatu yang lain, dia menjelaskan kalau dia sedang kalut sekali, dan kelihatannya dia akan menangis. Sementara itu kami menyuruh seseorang membuat Toffe Nut Latte, karena siapa yang tidak suka minuman itu? Kami bilang lupakan kopi biasa, kami buatkan secangkir Toffe Nut Latte- hari ini gratis untuk anda. Dia senang sekali! Dia pergi dan kami tidak terlalu memikirkannya karena kami bahagia telah membuatnya bahagia.

. Beberapa hari kemudian, seorang mengirimkan bunga ke kedai kami, berterima kasih karena telah menyelamatkan hidupnya”

  • Perhatian

Memperhatikan diartikan bahwa mitra Starbucks melihat lebih jauh dari kebutuhan pribadi mereka dan memperhatikan kebutuhan orang lain (pelanggan, pelanggan potensial, pengkritik, mitra kerja, pemegang saham lain, manajer, staf pendukung, petani, mereka yang menanam kopi, bahkan lingkungan.

  • Berwawasan

Para mitra memiliki wawasan yang cukup luas dan memiliki semangat untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya.

  • Peduli

Peduli berarti partisipasi aktif “dalam kedai, dalam perusahaan, dan dalam masyarakat. Mental yang dimiliki karyawan adalah bukan mental “bekerja secukupnya saja”, melainkan terobsesi untuk menjadi yang terbaik.

    Semuanya penting

  • Perlu memperhatikan segala sesuatu secara detail.

  • Pernyataan:

Sensasi Starbucks tidak hanya dihasilkan dari mutu produknya tetapi juga dari seluruh atmosfir yang dirasakan ketika membeli dan menikmati kopi itu: keterbukaan ruang di kedainya, …. Papan menu yang menarik, bentuk konternya, … kebersihan lantainya, … Sebelum para penirunya tahu, starbucks telah lama telah sadar bahwa seni penjualan kopi jauh sekedar focus pada produknya. Detail-detail dari keseluruhan pengalaman memiliki peran penting… semuanya-mulai dari serbet sampai kantung belanja, bagian depan kedai sampai kursi-kursi dekat jendela, laporan tahunan sampai catalog, permukaan meja sampai teko- tampak mencerminkan…akar Starbucks yang asli dan organic”

  • Pengalaman konsumen diistilahkan “sebuah persinggahan yang istimewa” dimana manajemen memulai segala sesuatu dengan sebuah komitmen yang kuat terhadap detail pengalaman pelanggan.

    Surprice dan delight

Ingat mengenai di dalam bungkus makanan ada hadiah??/ inilah surpraise, dan hal inilah yang dikembangkan oleh starbucks. Memberikan surpraise dan kesenangan yang unik kepada pelanggan. Ada beberapa contoh surpraise yang dilakukan oleh Starbucks.

Contoh: Membagi-bagikan es krim, memberikan gratis minuman, menyelenggarakan mencicipi kopi sattu kota, dll

    Terbuka terhadap kritik

  • Jangan keberatan dikritik. Jika tidak benar, abaikan saja; jika tidak adil, jangan tersinggung; jika tidak beralasan, tersenyumlah; jika terbukti, itu bukan kritik-pelajarilah (nn)

  • Terbuka terhadap kritik memerlukan kemampuan yang lebih dari sekedar menenangkan masyarakat atau sekelompok orang yang bersikap menentang. Hal ini berfokus pada belajar dari individu yang tidak selalu mudah didengarkan.

    Leave Your mark

  • Pemimpin bisnis yang sukses menyadari bahwa kunci sukses mereka adalah dengan meninggalkan warisan yang kuat dan positif bagi masyarakat.

  • Kepedulian terhadap lingkungan menjadi hal utama dalan berbisnis.

 

 

 

 

The Air Asia Story Februari 16, 2008

Posted by jungkirbalik in resume buku.
add a comment

Dasyatttt banget.

Begitulah ungkapan yang aku berikan ketika menyelesaikan membaca The Air Asia Story. Sungguh menyenangkan saat aku membaca buku ini (The Air Asia Story, karya Zen Se dan Jayne Ng). Buku ini menginspirasikan kepada kita bagaimana seorang harus berani mengambil resiko membuka sebuah usaha, walaupun kita tidak menguasai bidang tersebut. Tony Fernandes adalah seorang yang sangat jeli melihat sebuah peluang. Ia berani mengorbankan bisnis lamanya (waktu itu dia menjabat sebagai Wakil Presiden Times Warner Music South east asia). sebuah jabatan yang tinggi, dan bidang yang sangat dia kuasai. Namun dia berani mengakuisisi Air Asia yang pada waktu itu sangat merugi.

Hasilnya adalah dalam waktu 6 bulan maskapai ini beroperasi dibawah pimpinan Tony Fernandes, Maskapai ini memperoleh laba yang cukup fantastis. Sungguh luar biasa.

Aku mencoba memberi sedikit resume dari kisah Air Asia yang luar biasa. Semoga pembaca menikmati, dan mencoba untuk membeli buku tersebut di toko terdekat, heeee….

the-air-asia-story.doc

Leadership Trainning Februari 12, 2008

Posted by jungkirbalik in related information.
1 comment so far

Beberapa hari yang lalu, aku mengikuti Leadership Trainning di Sub Terminal Agrobisis, Tawangmangu, tepatnya tanggal 7-8 Februari’08. Hari pertama hanya diisi dengan seminar (ceramah), sedangkan hari ke dua lebih banyak ke outbond. Acaranya sih tidak terlalu padat. Pokoknya….Sangat menyenangkan.

Ada banyak hal yang aku dapatkan disana. Disana aku diajari mengenai “servant leadership”. Seorang pemimpin harus menjadi ” pelayan”. Sebagai contoh seperti ini, Ada salah satu dekan di salah satu universitas diSemarang. Suatu hari ada murid yang mau ke WC. Dia sangat terkejut karena Dekannya tadi membersihkan WC. Sang murid berkata, “kok bapak yang membersihkan WC, gak ada tukang bersih-bersih ya pak.” Dekan tersebut cuma bilang, “Apa harus cleaning servise yang mengerjakan pekerjaan ini?” Pernyataan dekan tersebut membuat murid tadi menjadi tergugah. dia berpukur pak dekan adalah seorang pemimpin yang hebat. Dia masih mau menjadi seorang “buruh” walau jabatannya sangat tinggi. Dia tidak malu mengerjakan hal-hal yang dianggap orang lain sangat rendah.

Pelajaran yang didapat adalah kita sebagai seorang pemimpin harus mau melayani orang lain, walau mungkin hal tersebut akan membuat kita dipandang rendah. Dan tidak mudah untuk menerapkannya.Karena biasanya seorang pemimpin memiliki sifat selalu nge-bos-i.

di sana juga ada banyak game yang seru. Game yang menggugah pikiran. Beberapa game mengajarkan bahwa sebagai pemimpin, kita harus berpikir di luar kebiasaan Artinya kita dituntut harus memiliki inovasi yang tinggi, tidak kaku, dan memiliki keahlian tertentu. Aku juga belajar mengenai kekompakan di dalam sebuah team, bagaimana memimpin, dan masih banyak hal lainnya.

Ada beberapa photo yang aku upload. Silahkan melihat keceriaan yang ada di dalamnya.

kelompok-outbond.jpg

Foto diatas adalah foto kelompokku. Kami salah satu kelompok yang sangat kompak.

Kami menamakan kelompok kami “Babi Girang”.

Kita lihat foto lainnya:

123.jpgpeserta.jpg2.jpg3.jpg4.jpg6.jpg11.jpg12.jpg1231.jpg7.jpg